Hari ini aku menyelesaikan 6 tulisan untuk blog-blog-ku. Tulisan yang dibuat berdasarkan ide-ide yang sudah menumpuk berminggu-minggu.
Ada 4 tips Warung Hijau :
1. sampah
2. plastik
3. makan mi
4. hidup organik
Ada 2 catatan perjalanan :
1. Siomay Sewan
2. Gereja Ganjuran
Huuhh.... lega rasanya.
Jumat, 07 Mei 2010
Rabu, 21 April 2010
tidak pernah puas
Duluketika hanya ada mesin tik, aku berangan-angan memiliki komputer
kemudian
ketika sudah ada sebuah komputer, aku berangan- angan memiliki laptop
ketika sudah ada sebuah komputer dan sebuah laptop, aku berangan-angan memiliki laptop pribadi
sekarang
aku sudah mempunyai laptop dengan model netbook
menulis menjadi lebih mudah
mencari bahan tulisan menjadi lebih mudah
aku berangan angan lagi untuk memiliki ipad yang bisa dibuka setiap saat aku ingin menulis dan tidak perlu 'shut down' setelah selesai.
uuuhhh.... manusia memang tidak pernah puas
Posting tulisan tentang acara Kumkum 16-17 april 2010
Kemarin aku membuat dua tulisan laporan pandangan mata acara Kumkum di warung hijau dengan judul Zero waste di kumkum dan di Loli, loli ... top! dengan judul Terowongan penyeberangan bawah tanah
Minggu, 18 April 2010
Posting di warung hijau
Semalam aku memposkan artikel Menjadi konsumen organik, hidup berdamai dengan alam di Warung Hijau ku. Tulisan yang berisi pemikiranku mengenai makanan organik.
Reuni dengan guru SD, SMP dan SMA
Kemarin malam aku datang ke rumah Pak Darmawi yang mengadakan kebaktian pengucapan syukur atas kesembuhan istrinya, juga atas ulangtahunnya yang ke-69. Pak Darmawi adalah guru sejarahku saat aku duduk di bangku SMP.
Di antara tamu yang datang, kujumpai Pak Sura Kitti, guru kimiaku di SMA. Ada lagi Ibu Sian Tju, guru kelas 2 SD ku. Ada 2 orang guru lagi, bukan guruku, tapi aku tahu adik-adikku pernah diajar oleh keduanya. Mereka adalah Pak Tjan dan Bu Hartati.
Senangnya bisa bertemu dengan guru-guruku dalam waktu yang bersamaan di tempat yang tidak terlalu besar dan tanpa perencanaan. Cuma 1 saya yang kurang : tidak ada guru TK ku...
Di antara tamu yang datang, kujumpai Pak Sura Kitti, guru kimiaku di SMA. Ada lagi Ibu Sian Tju, guru kelas 2 SD ku. Ada 2 orang guru lagi, bukan guruku, tapi aku tahu adik-adikku pernah diajar oleh keduanya. Mereka adalah Pak Tjan dan Bu Hartati.
Senangnya bisa bertemu dengan guru-guruku dalam waktu yang bersamaan di tempat yang tidak terlalu besar dan tanpa perencanaan. Cuma 1 saya yang kurang : tidak ada guru TK ku...
Senin, 01 Maret 2010
PAK GUBERNUR BERTEMU DENGAN ISTRI PEJABAT
Ketika aku berangkat ke NTT untuk mejalani wajib kerja sarjana, bawaanku super-duper berat, 1 buah koper besar seberat 20 kg dan 1 buah koper kecil yang tidak beda jauh beratmya. Isinya pakaian, perlengkapan mandi untuk 2 tahun, sprei, makanan kering jatah 6 bulan, bacaan untuk 2 tahun, kaset, walkman dan tang pencabut gigi. Belakangan, aku menertawakan diri sendiri atas ke-norak-anku yang seolah-olah pergi menuju tempat tanpa kehidupan sehingga harus membawa bagasi seberat itu! Demi menghindari pembayaran kelebihan berat, koper kecil kutenteng masuk kabin pesawat. Bayangkan perjuanganku menggotong koper belasan kilogram itu!
Dari Jakarta sebelum tiba di Kupang, kami transit di Denpasar, menunggu selama 1,5 jam sebelum masuk ke pesawat yang lebih kecil. Tidak ada belalai yang menghubungkan ruang tunggu penumpang dengan pintu pesawat seperti di Soekarno-Hatta. Kami harus berjalan kaki lumayan jauh dari ruang tunggu penumpang hingga ke tangga pesawat. Dengan koper belasan kilogram itu! Untung ada Siriet yang jalannya cukup lambat sehingga aku mendapat teman untuk berlelet-ria.
Dalam perjalanan menuju tangga pesawat di bawah terik matahari, aku disapa oleh seorang bapak berbadan besar, tidak terlalu tinggi, berkacamata dan berwajah ramah, ”Ini rombongan dokter yang mau ke Kupang ya?” Rombongan kami yang terdiri atas 7 orang yang akan turun di Kupang dan sekitar 13 orang turun di Dili. Mungkin tingkah laku kami mencolok mata, sehingga bapak itu menyapa saya, yang kebetulan berjalan di dekatnya.
Bawaanku yang berat memperlambat jalanku. Meskipun Si Bapak tadi jelas-jelas lebih berat daripada koperku, tapi dia membawanya setiap hari, setiap jam sepanjang tahun, jadi pasti sudah terbiasa. Buktinya dia bisa berjalan lebih cepat dan memasuki badan pesawat lebih dahulu. Ketika aku akhirnya berhasil masuk meskti dengan nafas terengah-engah, Si Bapak sudah duduk dengan manisnya di bangku paling depan di barisan kanan. Bangku di sebelahnya masih kosong. Eh... Si Bapak menyapaku lagi, ”Yuk, duduk di sini.” dengan senyumnya yang ramah itu sambil menunjuk bangku di sebelahnya..... ”Terimakasih, Pak. Bangku saya di belakang.” Duh... kok iseng banget sih!
Hari ketiga di Kupang..... kami ber-7 diundang ke kantor Pak Fernandez, gubernur NTT saat itu. Selama tiga hari pertama, semua orang asli NTT yang kami jumpai membuat kami berpikir bahwa semua orang Kupang tirus, hitam terbakar, rambut keriting dan berwajah susah. Jangan salahkan kami kalau kami membayangkan sedang menanti orang serupa ini di ruangan besar dan sejuk di kantor gubernur.
Kami tidak perlu menunggu lama dan membayangkan yang tidak-tidak. Tidak sampai 15 menit....muncullah sosok yang tidak asing buatku. Tiba-tiba Siriet menyikutku, membuat nafasku tertahan sejenak. Si Bapak yang menyapaku di Denpasar! Untung posisi dudukku cukup terhalang oleh teman-temanku yang lain, jadi pasti Si Bapak tidak akan melihatku.
Cerita belum berakhir. Pak Gubernur memberikan kata sambutan bla...bla..bla.... sikapnya tidak formal sehingga mencairkan ketegangan kami. Lalu dia bercerita tentang pengalamannya ketika pulang dari perjalanan dinas dari Jakarta. Di bandara Ngurah Rai bertemu dengan rombongan dokter gigi. Semula beliau mengira bertemu dengan rombongan pejabat dari Jakarta, sebab ada satu ibu yang berpenampilan meyakinkan seperti Istri Pejabat sambil menujuk Siriet. Kemudian beliau juga menceritakan diriku yang menolak duduk di sebelahnya di pesawat dan beliau menduga diriku menganggap beliau sebagai Om Senang.... duh! Rasanya waktu itu dudukku makin merosot ke bawah......
Dari Jakarta sebelum tiba di Kupang, kami transit di Denpasar, menunggu selama 1,5 jam sebelum masuk ke pesawat yang lebih kecil. Tidak ada belalai yang menghubungkan ruang tunggu penumpang dengan pintu pesawat seperti di Soekarno-Hatta. Kami harus berjalan kaki lumayan jauh dari ruang tunggu penumpang hingga ke tangga pesawat. Dengan koper belasan kilogram itu! Untung ada Siriet yang jalannya cukup lambat sehingga aku mendapat teman untuk berlelet-ria.
Dalam perjalanan menuju tangga pesawat di bawah terik matahari, aku disapa oleh seorang bapak berbadan besar, tidak terlalu tinggi, berkacamata dan berwajah ramah, ”Ini rombongan dokter yang mau ke Kupang ya?” Rombongan kami yang terdiri atas 7 orang yang akan turun di Kupang dan sekitar 13 orang turun di Dili. Mungkin tingkah laku kami mencolok mata, sehingga bapak itu menyapa saya, yang kebetulan berjalan di dekatnya.
Bawaanku yang berat memperlambat jalanku. Meskipun Si Bapak tadi jelas-jelas lebih berat daripada koperku, tapi dia membawanya setiap hari, setiap jam sepanjang tahun, jadi pasti sudah terbiasa. Buktinya dia bisa berjalan lebih cepat dan memasuki badan pesawat lebih dahulu. Ketika aku akhirnya berhasil masuk meskti dengan nafas terengah-engah, Si Bapak sudah duduk dengan manisnya di bangku paling depan di barisan kanan. Bangku di sebelahnya masih kosong. Eh... Si Bapak menyapaku lagi, ”Yuk, duduk di sini.” dengan senyumnya yang ramah itu sambil menunjuk bangku di sebelahnya..... ”Terimakasih, Pak. Bangku saya di belakang.” Duh... kok iseng banget sih!
Hari ketiga di Kupang..... kami ber-7 diundang ke kantor Pak Fernandez, gubernur NTT saat itu. Selama tiga hari pertama, semua orang asli NTT yang kami jumpai membuat kami berpikir bahwa semua orang Kupang tirus, hitam terbakar, rambut keriting dan berwajah susah. Jangan salahkan kami kalau kami membayangkan sedang menanti orang serupa ini di ruangan besar dan sejuk di kantor gubernur.
Kami tidak perlu menunggu lama dan membayangkan yang tidak-tidak. Tidak sampai 15 menit....muncullah sosok yang tidak asing buatku. Tiba-tiba Siriet menyikutku, membuat nafasku tertahan sejenak. Si Bapak yang menyapaku di Denpasar! Untung posisi dudukku cukup terhalang oleh teman-temanku yang lain, jadi pasti Si Bapak tidak akan melihatku.