Kamis, 20 Maret 2014
Wisata ala backpacker = pengemis?
Kupikir...
Kalau gaya seperti ini dianut semua backpacker Indonesia di luar negeri, sungguh memalukan Aku sangat tidak bangga menjadi orang Indonesia di negeri orang.
Backpacker bukan berarti gembel yang berwisata. Kalau mau wisata ya harus bekerja.dulu, ..kumpulkan uang untuk berwisata atau berwisata sambil bekerja tanpa merendahkan diri jadi peminta2 terselubung.
Bandeng
Kalau di pasar banyak yang jual bandeng gede-gede...nah itu betul tuh karena mau Imlek. Bandeng sengaja dipelihara supaya menjelang Imlek bisa dipanen. Dan aku bikin pindang bandeng tiap tahun bukan karena Imlek, tapi karena ngiler liat bandeng gede dijual.....kemaren beli 3,5kg...mudah-mudahan masih ada sisa 1 atau 2 potong waktu bulan purnama nanti saat bumbunya meresap ke daging ikannya dan rasa gurih ikannya meresap di kuahnya....hmmmmm......sluuuuŕrrp!
Bandeng besar ini tulang dan durinya juga besar, sehingga tidak mengganggu kenikmatan makan. Selain itu, pada saat membeli, penjualnya telah meperlakukan ikan bandeng dengan cara menarik secara mendadak untuk melepaskan duri dari daging ikannya. Tulang dan duri pada bandeng menjelang Imlek memang tidak menggnggu. Bahkan, lama kelamaan duri menjadi lunak dan dapat dimakan karena setiap hari dihangatkan.
Ini adalah resep pindang bandeng dari mertua. Bawang merah(utuh), bawang putih (utuh), lengkuas & kunyit (iris) dibakar sampai harum. Semuanya dimasukkan ke air. Tambah daun salam, asam, cabe (kalo suka), merica, pala, garam, kecap asin dan manis. Setelah mendidih, masukan bandengnya. Kalau masaknya pagi, malamnya dihangatkan lagi. Besoknya dihangatkan lagi. Makin lama diinapkan, bumbunya makin meresap ke ikannya dan kuahnya makin gurih. Biasanya, setelah 1 hari, guru hebatku tidak bisa menahan diri untuk tidak memakannya. Aku pernah makan yang sudah dihangatkan ulang sampai 2 minggu....Daging ikannya hampir hitam warnanya dan benar2 enaaaakkkkk!
Keramah-tamahan orang Indonesia
Pagi pertamaku di Desa Tiwu Sora di Flores. Saat itu aku sedang berdiri di depan rumah kepada desa. Udara berkabut, angin bertiup kencang, ada sedikit gerimis. Aku mengenakan sweater untuk menahan dingin masuk tubuh.
Beberapa kali penduduk lewat di depan rumah dan selalu berhenti untuk menyapa, menanyakan asal-usulku, kapan datang, menginap di mana, apakah aku tidak kedingingan dan tidak jarang ditutup dengan ajakan mampir ke rumahnya untuk minum kopi.
Yang paling menyentuh adalah pertemuan dengan seorang ibu yang sedang dalam perjalanan ke paroki untuk doa pagi. Setelah panjang lebar bercakap-cakap, dia bertanya mengapa aku tidak menggunakan sarung (maksudnya sarung tenun ikat seperti yang umum digunakan penduduk di sana untuk menahan dingin, seperti terlihat di foto ini). Kujawab, "Saya tidak bawa sarung. Ibu itu bilang, "Sebentar Mama, saya ambil sarung di rumah dulu untuk Mama ee". Aku berusaha keras menolaknya, karena aku memang tidak memerlukannya.
Valentine
Kupikir...
14 Februari memang tidak pernah menjadi hari istimewa bagi keluarga kami. Coklat kami makan dan minum kapanpun kami inginkan. Tangkai bunga tidak pernah kami patahkan dari pohonnya sebelum layu dan hampir setiap hari ada bung mekar di kebun kami yang berantakan. Kata cinta nyaris tidak pernah kami ucapkan dan kami tidak memerlukan lambang-lambang cinta. Karena keistimewaan cinta kami rasakan, ciptakan, ungkapkan dan lakukan setiap hari.
Di pasar swalayan
Aku biasa membawa tas belanja sendiri dan sudah terbiasa memasukkan sendiri belanjaan ke dalam tas. Jadi selama ini tidak pernah merasa hal ini sebagai masalah penting. Tapi tadi baru mikir...sepertinya pihak manajemen pasar-pasar swalayan seharusnya melatih kasir-kasirnya untuk membiasakan diŕi dengan menata barang-barang bukan hanya di kantong kresek,tapi juga di tas milik pembeli. Karena mungkin salah satu penyebab orang malas membawa tas belanja sendiri karena tidak dilayani kasir waktu memasukkan belanjaan ke dalam tas....yah...gitu deh ..... hingga sekarang, umumnya orang Indonesia itu kan maunya dilayani...
Judulnya : aku bosan kampanye bawa tas belanjaan sendiri dan disapa"go green ya?" Aku sudah bertahun-tahun tidak "go green" tapi "think green". Be a green thinker is not my life style but my way of life.
Jamur
Kupikir.....
Jamur ini murah sekali, mengingat negara asal produsennya, ongkos budidayanya, pengemasannya dan ongkos kirimnya. Aku iri karena Indonesia memiliki udara dan suhu yang kondusif bagi pertumbuhan jamur, tapi tidak memiliki teknologi ini. Jamur-jamur yang tumbuh dan dikonsumsi di Indonesia semuanya berusia paling lama 1 hari. Setelah itu layu.
Beberapa hari yang lalu di keranjang Takakura-ku ada banyak benda-benda halus berwarna putih seperti gumpalan kapas. Sebetulnya hal ini sering muncul. Biasanya setelah beberapa hari menjadi hitam. Tadi siang, saat aku memasukkan sampah baru, ada beberapa pucuk jamur. Ada yang terselip di antara tumpukan sampah. Ada yang tumbuh keluar dari jaring.
Kupikir...
bentuknya persis sama dengan jamur blablabla yang minggu lalu kupakai untuk membuat sup. Waktu itu aku membuang akar jamur yang berwarna kehitaman di keranjang Takakura. Rupanya suhu dan kelembaban keranjang ideal bagi spora jamur blablabla untuk membelah diri. Ditambah nutrisi tinggi dari sampah lainnya, maka berkembang-biaklah dia.
Kupikir...
Gumpalan-gumpalan seperti kapas yang terlihat beberapa hari yang lalu adalah benang-benang hifa yang banyak. Tadi siang kulihat masih banyak gumpalan-gumpalan kapas itu. Mungkin beberapa hari lagi banyak yang jadi jamur.
Kupikir...
Asik juga ya kalau bisa beternak jamur di halaman rumah sendiri....
Minggu, 02 Februari 2014
Alpukat
Entah nama yang benar apa. Alpukat, alpokat, alpuket, avocado.....yang jelas buah ini ternyata enak kalau dimakan saat "mateng pu'un" tanpa campuran apa-apa.
Dari kecil, aku makan buah ini selalu dicampur kopi, susu dan gula atau dalm bentuk jus. Tahun 1993 di kapal feri dari Kupang ke Larantuka, aku terkejut melihat seorang Mama makan buah itu dengan cara menyendoknya dari kulitnya.
Kupikir....apa rasanya ya?
Tahun 2013 di Maumere dan Larantuka, aku makan buah itu dengan cara yang sama seperti Mama di feri. Wah.....ternyata memang enak sekali! Rasanya manis dan gurih. Setelah itu, di pasar aku selalu mencari buah itu dan tidak pernah menemukan buah yang seenak di Flores.
Kupikir...... saat itu buah ini hanya enak kalau tumbuh di Flores.
Minggu lalu, ada yang panen buah ini di kebun rumahnya. Aku kebagian banyaaaaak. Buahnya besar-besar dan yang penting rasanya sama seperti yang kudapati di Flores!
Kupikir.... sebetulnya buah ini terasa enak di Flores karena dimakan setelah "mateng pu'un". Di pasar Tangerang tidak pernah ada yang menjual buah ini dalam keadaan "mateng pu'un". Makanya tidak pernah ada yang menjual buah yang enak. Yang sekarang ada di rumahku adalah buah-buah yang "mateng pu'un". Makanya enak.
Kupikir....
Memang tidak mungkin menemukan buah "mateng pu'un" di Jakarta. Karena proses distribusi pànjang yang harus ditempuh untuk sampai ke tangan konsumen. Kalau dipetik saat "mateng pu'un", tentu sudah busuk begitu tiba di tangan konsumen.
Kupikir....
Enak sekali jadi orang Flores yang bisa makan buah "mateng pu'un" yang enak.
Kupikir.....
Enak sekali orang yang punya pohon buah sehingga bisa makan buah "mateng pu'un" yang enak.
Kupikir....
Enak sekali diriku yang bisa makan buah "mateng pu'un" yang enak tanpa harus ke Flores atau menanam pohonnya.

