Kearifan
lokal di sebuah desa di Watublapi Kabupaten Sikka, Flores : Percaya pada Bapa
Langit yang menciptakan segala sesuatu di dunia dan pada Ibu Bumi yang
memberi kehidupan bagi tumbuhan, binatang dan manusia. Hubungan baik
dengan Bapa dan Ibu harus dipelihara agar kehidupan di dunia menjadi
seimbang. Kalau hubungan tidak baik, Ibu Bumi akan marah dan berwujud
gejolak alam yang tidak bersahabat dengan manusia.
Masyarakat di desa ini banyak yang bersekolah tinggi, banyak yang punya
hp dan akun di FB dan tidak gagap teknologi. Mereka tidak anti
modernitas, karena hidup modern bukan berarti melupakan asal-usulnya
yaitu Bapa Langit dan Ibu Bumi.
Salut untuk Flores Culture bersama masyarakatnya yang berani memelihara kearifan lokal yang berdampak global ini.
Kamis, 20 Maret 2014
Indeks glikemik nasi pulen
Nasi
pera' ternyata mengandung amilum lebih banyak daripada nasi pulen,
sehingga indeks glikemiknya lebih rendah. Makin tinggi indeks glikemik
artinya makin cepat dimetabolisme oleh tubuh menjadi gula darah. Nasi
pulen memang nikmat, tapi karena aku kurang gerak fisik.....hmm....
lupakan saja nasi pulen!
Primata, fruktosa, trigliserida
Ada tulisan di NatGeo bulan Agustus 2013 :
Pada jaman es 17 juta tahun yang lalu ada mutasi gen primata untuk bertahan terhadap dingin. Mutasi gen yang menjadikan primata mampu mengolah fruktosa (gula pada buah) dalam bentuk lemak untuk bertahan saat musim dingin.
Sekarang semua spesies primata memiliki faktor mutasi itu. Saat mengkonsumsi gula dalam bentuk yang cepat dicerna, hati akan memecah fruktosa dan menghasilkan lemak yang disebut trigliserida. Trigliserida yang menumpuk di hati menurunkan kinerja hati. Trigliserida yang masuk ke dalam darah, menyebabkan kenaikan tekanan darah, jaringan menjadi semakin resisten terhadap insulin, resiko serangan jantung meningkat.
Fruktosa yang dulu mampu menyelamatkan primata sekarang malah membunuh banyak umat manusia karena jumlah konsumsi terus meningkat.
Pada jaman es 17 juta tahun yang lalu ada mutasi gen primata untuk bertahan terhadap dingin. Mutasi gen yang menjadikan primata mampu mengolah fruktosa (gula pada buah) dalam bentuk lemak untuk bertahan saat musim dingin.
Sekarang semua spesies primata memiliki faktor mutasi itu. Saat mengkonsumsi gula dalam bentuk yang cepat dicerna, hati akan memecah fruktosa dan menghasilkan lemak yang disebut trigliserida. Trigliserida yang menumpuk di hati menurunkan kinerja hati. Trigliserida yang masuk ke dalam darah, menyebabkan kenaikan tekanan darah, jaringan menjadi semakin resisten terhadap insulin, resiko serangan jantung meningkat.
Fruktosa yang dulu mampu menyelamatkan primata sekarang malah membunuh banyak umat manusia karena jumlah konsumsi terus meningkat.
Perluasan Bandara Komodo
Aku mempunyai mimpi yang sama dengan penulis artikel Perluasan Bandara Komodo : Pariwisata Menguat, Kekhawatiran Mencuat ini
Wisata ala backpacker = pengemis?
Di
sebuah milis ada orang yang menceritakan pengalamannya keliling negara2
ASEAN ala backpacker dengan harga minim. Sepintas, tersirat gayanya
berakab-akrab dengan turis lain atau penduduk setempat yang ujung2nya
dapat tumpangan, makan gratis. Terakhir ditutup dengan kalimat "Saya
bangga jadi orang Indonesia".
Kupikir...
Kalau gaya seperti ini dianut semua backpacker Indonesia di luar negeri, sungguh memalukan Aku sangat tidak bangga menjadi orang Indonesia di negeri orang.
Backpacker bukan berarti gembel yang berwisata. Kalau mau wisata ya harus bekerja.dulu, ..kumpulkan uang untuk berwisata atau berwisata sambil bekerja tanpa merendahkan diri jadi peminta2 terselubung.
Kupikir...
Kalau gaya seperti ini dianut semua backpacker Indonesia di luar negeri, sungguh memalukan Aku sangat tidak bangga menjadi orang Indonesia di negeri orang.
Backpacker bukan berarti gembel yang berwisata. Kalau mau wisata ya harus bekerja.dulu, ..kumpulkan uang untuk berwisata atau berwisata sambil bekerja tanpa merendahkan diri jadi peminta2 terselubung.
Bandeng
Banyak orang yang bilang kalo hujan turun di
bulan Januari karena mau Imlek. Padahal hujan turun karena bulan Januari
berada dalam musim penghujan.
Kalau di pasar banyak yang jual bandeng gede-gede...nah itu betul tuh karena mau Imlek. Bandeng sengaja dipelihara supaya menjelang Imlek bisa dipanen. Dan aku bikin pindang bandeng tiap tahun bukan karena Imlek, tapi karena ngiler liat bandeng gede dijual.....kemaren beli 3,5kg...mudah-mudahan masih ada sisa 1 atau 2 potong waktu bulan purnama nanti saat bumbunya meresap ke daging ikannya dan rasa gurih ikannya meresap di kuahnya....hmmmmm......sluuuuĆrrp!
Bandeng besar ini tulang dan durinya juga besar, sehingga tidak mengganggu kenikmatan makan. Selain itu, pada saat membeli, penjualnya telah meperlakukan ikan bandeng dengan cara menarik secara mendadak untuk melepaskan duri dari daging ikannya. Tulang dan duri pada bandeng menjelang Imlek memang tidak menggnggu. Bahkan, lama kelamaan duri menjadi lunak dan dapat dimakan karena setiap hari dihangatkan.
Ini adalah resep pindang bandeng dari mertua. Bawang merah(utuh), bawang putih (utuh), lengkuas & kunyit (iris) dibakar sampai harum. Semuanya dimasukkan ke air. Tambah daun salam, asam, cabe (kalo suka), merica, pala, garam, kecap asin dan manis. Setelah mendidih, masukan bandengnya. Kalau masaknya pagi, malamnya dihangatkan lagi. Besoknya dihangatkan lagi. Makin lama diinapkan, bumbunya makin meresap ke ikannya dan kuahnya makin gurih. Biasanya, setelah 1 hari, guru hebatku tidak bisa menahan diri untuk tidak memakannya. Aku pernah makan yang sudah dihangatkan ulang sampai 2 minggu....Daging ikannya hampir hitam warnanya dan benar2 enaaaakkkkk!
Kalau di pasar banyak yang jual bandeng gede-gede...nah itu betul tuh karena mau Imlek. Bandeng sengaja dipelihara supaya menjelang Imlek bisa dipanen. Dan aku bikin pindang bandeng tiap tahun bukan karena Imlek, tapi karena ngiler liat bandeng gede dijual.....kemaren beli 3,5kg...mudah-mudahan masih ada sisa 1 atau 2 potong waktu bulan purnama nanti saat bumbunya meresap ke daging ikannya dan rasa gurih ikannya meresap di kuahnya....hmmmmm......sluuuuĆrrp!
Bandeng besar ini tulang dan durinya juga besar, sehingga tidak mengganggu kenikmatan makan. Selain itu, pada saat membeli, penjualnya telah meperlakukan ikan bandeng dengan cara menarik secara mendadak untuk melepaskan duri dari daging ikannya. Tulang dan duri pada bandeng menjelang Imlek memang tidak menggnggu. Bahkan, lama kelamaan duri menjadi lunak dan dapat dimakan karena setiap hari dihangatkan.
Ini adalah resep pindang bandeng dari mertua. Bawang merah(utuh), bawang putih (utuh), lengkuas & kunyit (iris) dibakar sampai harum. Semuanya dimasukkan ke air. Tambah daun salam, asam, cabe (kalo suka), merica, pala, garam, kecap asin dan manis. Setelah mendidih, masukan bandengnya. Kalau masaknya pagi, malamnya dihangatkan lagi. Besoknya dihangatkan lagi. Makin lama diinapkan, bumbunya makin meresap ke ikannya dan kuahnya makin gurih. Biasanya, setelah 1 hari, guru hebatku tidak bisa menahan diri untuk tidak memakannya. Aku pernah makan yang sudah dihangatkan ulang sampai 2 minggu....Daging ikannya hampir hitam warnanya dan benar2 enaaaakkkkk!
Keramah-tamahan orang Indonesia
Keramah-tamahanan orang Indonesia yang dulu terkenal itu bukan basa-basi dan masih ada lho....
Pagi pertamaku di Desa Tiwu Sora di Flores. Saat itu aku sedang berdiri di depan rumah kepada desa. Udara berkabut, angin bertiup kencang, ada sedikit gerimis. Aku mengenakan sweater untuk menahan dingin masuk tubuh.
Beberapa kali penduduk lewat di depan rumah dan selalu berhenti untuk menyapa, menanyakan asal-usulku, kapan datang, menginap di mana, apakah aku tidak kedingingan dan tidak jarang ditutup dengan ajakan mampir ke rumahnya untuk minum kopi.
Yang paling menyentuh adalah pertemuan dengan seorang ibu yang sedang dalam perjalanan ke paroki untuk doa pagi. Setelah panjang lebar bercakap-cakap, dia bertanya mengapa aku tidak menggunakan sarung (maksudnya sarung tenun ikat seperti yang umum digunakan penduduk di sana untuk menahan dingin, seperti terlihat di foto ini). Kujawab, "Saya tidak bawa sarung. Ibu itu bilang, "Sebentar Mama, saya ambil sarung di rumah dulu untuk Mama ee". Aku berusaha keras menolaknya, karena aku memang tidak memerlukannya.
Pagi pertamaku di Desa Tiwu Sora di Flores. Saat itu aku sedang berdiri di depan rumah kepada desa. Udara berkabut, angin bertiup kencang, ada sedikit gerimis. Aku mengenakan sweater untuk menahan dingin masuk tubuh.
Beberapa kali penduduk lewat di depan rumah dan selalu berhenti untuk menyapa, menanyakan asal-usulku, kapan datang, menginap di mana, apakah aku tidak kedingingan dan tidak jarang ditutup dengan ajakan mampir ke rumahnya untuk minum kopi.
Yang paling menyentuh adalah pertemuan dengan seorang ibu yang sedang dalam perjalanan ke paroki untuk doa pagi. Setelah panjang lebar bercakap-cakap, dia bertanya mengapa aku tidak menggunakan sarung (maksudnya sarung tenun ikat seperti yang umum digunakan penduduk di sana untuk menahan dingin, seperti terlihat di foto ini). Kujawab, "Saya tidak bawa sarung. Ibu itu bilang, "Sebentar Mama, saya ambil sarung di rumah dulu untuk Mama ee". Aku berusaha keras menolaknya, karena aku memang tidak memerlukannya.
