Tampilkan postingan dengan label Tingkah laku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tingkah laku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Mei 2010

Eretan


Hari Minggu yang lalu, aku bersama Tim Betlehem GKI Surya Utama melakukan bakti sosial di Eretan. Eretan adalah sebuah kota kecil di kabupaten Indramayu. Di sana, sesuai dengan kapasitasku, aku berbakti sebagai tenaga dokter gigi.

Ada masalah umum yang kujumpai. Semua pasien anak berperilaku tidak cengeng. Aku tidak perlu merayu agar dapat melakukan tindakan di mulut mereka. Tanpa disuruh, mereka akan membuka mulut sebesar-besarnya. Tidak ada tangis atau keluhan rasa sakit pada saat aku mencabut gigi mereka.

Hal lain, aku tidak mengalami kesulitan dalam mencabut gigi-gigi orang dewasa. Semua gigi dapat kucabut nyaris tanpa tenaga. Mungkin osteoporosis merupakan penyakit umum di sana.

Eretan memang kota kecil. Penduduknya hidup sederhana dan nampaknya harus bekerja keras untuk dapat menjalani hidup. Kesederhanaan itu membuat kebutuhan gizi menjadi hal yang tidak penting. Yang penting adalah perut kenyang. Ketegaran anak-anak Eretan tentu hasil tempaan hidup keras yang mereka jalani sejak kecil. Rapuhnya tulang-tulang rahang orang dewasa adalah akibat kemampuan mengkonsumsi makanan sekenyangnya.

Minggu, 27 September 2009

Gaptek

Bicara soal gagap teknologi (gaptek), kebanyakan orang mengkaitkannya dengan ketertinggalan seseorang dalam teknologi komputer. Hari ini dan beberapa hari terakhir aku berjumpa dengan beberapa kekonyolan gara-gara gaptek.

Ada sebuah klinik kecil dengan beberapa ruang pelayanan. Untuk mempermudah pencatatan dan pelaporan tindakan medik, disediakanlah 2 perangkat komputer. Yang pertama diletakkan di ruang pendaftaran pasien, yang kedua diletakkan di ruang apotik. Tidak lama setelah kehadiran komputer ini, muncul masalah. Ada ketidakcocokan antara jumlah pasien yang datang dengan jumlah pelayanan yang diberikan dan dengan jumlah obat yang dikeluarkan. Semua diakibatkan oleh kebingungan operator komputer yang baru pertama kali bersentuhan dengan komputer. Yang menggelikan adalah solusinya. Demi menolong operator ini, ada pekerjaan ekstra yang lebih berbelit serta memboroskan kertas dan tinta yang harus dilakukan untuk menginput data ke dalam komputer.
Kupikir... teknologi komputer seharusnya menolong manusia. Namun gagap teknologi memutarbalikkannya, manusia diperbudak oleh teknologi komputer.

Ada sebuah tempat kebaktian, tempat orang bersekutu, dibuat besar dan megah, tanpa mempertimbangkan masalah akustik dan semangat kebersamaan. Teknologi sound system yang canggih dibuat agar suara pemimpin kebaktian dapat didengar oleh jemaat. Saat sound system rusak, suara pemimpin kebaktian yang berteriakpun tidak bisa didengar, bahkan oleh pengunjung yang duduk di tengah ruangan.
Kupikir.... orang menjadi gagap teknologi karena teknologi dipakai untuk menggantikan, bukan untuk menolong dan menghidupkan tradisi. Akibatnya saat teknologi tidak berfungsi, terasa sekali tradisi kebersamaan yang seharusnya ada dalam kebaktian ternyata memang sudah tidak ada di tempat itu.

Masih di tempat yang sama. Tempat yang besar dan megah tentunya akan semakin canggih jika difasilitasi oleh perangkat LCD. Semua informasi ditayangkan melalui LCD, termasuk teks lagu dan petunjuk kapan harus berdoa, membaca Alkitab, berdiri atau duduk, bahkan lafal pengakuan iman yang sudah melekat di otak. Pengkhotbah yang dianggap bagus adalah yang mampu memvisualisasikan bahan khotbanya melalui media power point. Saat operator komputer sedikit terlambat membalik halaman teks lagu, maka tak ada yang dapat bernyanyi. Saat terjadi gangguan pada LCD atau komputer, maka jemaatpun bingung harus berdiri atau duduk dan lupa bahwa ini adalah respon yang sangat alamiah dan seharusnya tidak perlu diperintahkan oleh LCD. Saat komputer terkena virus, barulah terasa bobot sesungguhnya sang pengkhotbah.
Kupikir.... teknologi komputer membuat orang yang gagap teknologi menjadi robot tak bernyawa, tidak wajar dan kehilangan kreativitas.

Di sebuah klinik gigi tersedia dental unit dengan teknologi modern. Semua terkomputerisasi. Untuk menaik-turunkan bangku, sandaran bangku cukup dengan menekan satu tombol. Dari 4 perangkat mesin pemutar bor yang berjajar di meja, hanya satu yang akan berfungsi yaitu yang diangkat dari soketnya. Selama mesin pemutar masih berada di dalam soketnya, meski dihidupkan, mesin tidak akan memutar bor. Sangat efektif dalam segi keamanan. Dengan sensor optikal, saluran air hanya akan mengeluarkan air kalau ada gelas kosong di bawahnya. Sangat efisien dalam penggunaan air. Masalah muncul saat terjadi kebocoran angin dari kompresor ke dental unit. Fungsi komputer sama sekali berhenti bekerja. Bahkan lampu tidak dapat dinyalakan. Tidak ada satu pasienpun yang dapat dilayani gara-gara tikus yang iseng menggigit selang angin.
Kupikir.... teknologi seharusnya tidak membuat manusia kalah terhadap makhluk lain. Namun tikus ternyata mampu membuat orang menjadi gaptek.

Saat pertama kali mengenal surat elektronik 12 tahun yang lalu, aku sudah cukup terlambat. Namun aku mensyukuri karena teknologi ini betul-betul mendekatkanku pada kakakku yang tinggal jauh di belahan dunia lain. Komunikasi menjadi lebih mudah dan irit waktu, meski saat itu koneksi internet masih menggunakan sistem dial-up. Banyak kemudahan lain kutemukan seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi hingga saat ini. Hingga terakhir, muncul teknologi blackberry. Semakin banyak orang yang menjadi tertolong untuk mengakses internet dengan alat ini, termasuk ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya dianggap dan mengaku gaptek. Mailing list semakin ramai dengan kehadiran milister pengguna blackberry. Muncul rekor posting beberapa bulan terakhir. Puluhan, bahkan ratusan posting dalam sehari. Sayangnya sebagian besar posting ternyata tidak berbobot, kadang-kadang hanya berisi tulisan "wkwkwk..." (maksudnya menggambarkan bunyi tertawa, meskipun kalau dibaca lebih mirip suara bebek) untuk menanggapi posting sebelumnya yang berisi lelucon 1 baris. Banyak milister lain yang masih menggunakan sistem dial-up mengalami kemacetan dalam mengirim dan menerima email karena padatnya lalulintas email. Yang lain kehilangan email penting karena terselip di antara email-email kripik itu (rame saat dikunyah namun tak bergizi).
Kupikir... gagap teknologi menjadi menular bahkan kepada orang yang sebelumnya tergolong atau menganggap dirinya melek teknologi. Rancu, sesungguhnya yang gaptek itu milister pengguna blackberry atau milister dengan sistem dial-up?

Teknologi dibuat untuk menolong agar kerja manusia menjadi lebih mudah, lebih teliti, lebih menjangkau bagian yang tidak terjangkau secara manusiawi, lebih mencakup dimensi yang lebih luas. Gagap teknologi bukan hanya menjangkiti orang yang tidak mengikuti perkembangan teknologi, tapi juga orang yang mengikuti namun meninggalkan segi kemanusiaannya.

Sabtu, 01 Agustus 2009

Waria dan perempuan di Thailand

Hampir semua orang pernah mendengar tentang kontes waria yang diselenggarakan di Thailand. Kalau melihat foto-foto mereka di missladyboy.com , tentu banyak yang mengakui kecantikan dan keanggunan mereka.

Tampaknya, ladyboy, istilah yang menunjuk pada waria, di Thailand adalah hal yang biasa. Artinya sebagai gender ketiga, mereka hidup berdampingan dengan gender yang lainnya. Mereka bekerja di banyak sektor dan terlihat wajar-wajar saja. Mereka tidak tampak salah tingkah dan tidak dituding-tuding atau diasingkan oleh sekitarnya. Mereka hadir sebagai orang biasa, meskipun berbeda dengan yang lain. Keberbedaan yang diterima sebagai hal yang biasa.

Dalam kunjuganku selama 2 minggu, cukup sering aku menjumpai mereka. Mereka hadir sebagai resepsionis hotel, petugas kebersihan, juga kenek perahu. Mereka memang sesama manusia dan seharusnya diperlakukan seperti manusia umumnya. Sesuatu yang sulit bagi masyarakat yang bahkan untuk memperlakukan perempuan sebagai manusia biasa saja, sulit.

Soal sikap terhadap perempuan. Alangkah nyamannya berjalan-jalan di kota Ao Nang atau Koh Tao atau kota-kota pantai lainnya di Thailand setelah bermain di laut seharian tanpa disibukkan dengan urusan ganti pakaian. Tidak ada sorotan mata iseng, tidak ada pandangan sinis, tidak ada siulan iseng. Saat menikmati jalan-jalan seperti ini, aku membandingkannya pada ketidaknyamanan duduk di angkot di kota Tangerang. Inilah salah satu sebab aku tidak menyukai kostum rok. Di halte-halte liar tempat angkot ngetem, banyak laki-laki muda berjongkok yang sudah siap dengan mata yang mengarah setinggi tempat duduk angkot. Mata liar yang berasal dari pikiran yang tidak menghargai perempuan sebagai sesama manusia. Mata liar yang berharap menjumpai perempuan memakai rok mini. Mata yang bertengger di kepala yang akan berjuang keras menundukkan serendah mungkin bila menjumpai perempuan memakai rok sedikit lebih panjang dari lutut. Kepala yang pikirannya memandang perempuan hanya sebagai obyek.

Bagaimana terhadap waria.... ?

Kamis, 28 Mei 2009

Kupikir..... aku beruntung pada Peh Cun tahun ini

Hari ini, 28 Mei 2009 bertepatan dengan tanggal 5 bulan 5 menurut penanggalan Cina. Ada tradisi Peh Cun pada hari ini untuk merayakan Dewa Air. Persisnya bagaimana, aku tidak terlalu mengerti, karena keluargaku hanya mewarisi darah Cina, tetapi tidak tradisinya. Yang aku tahu, menjelang Peh Cun, banyak orang menjual daun bambu dan beras ketan yang terpilih. Kemudian, 3-5 hari menjelang Peh Cun banyak kue cang dijual di pasar.


Waktu kecil dulu, aku ingat kami pernah "kebagian jatah" bacang dari Om John yang mendapat kiriman banyak bacang dari pasien-pasiennya. Jatah kita begitu banyak, dalam segi jumlah maupun rasa. Ada yang dari ketan, ada juga yang dari beras. Ada yang manis, ada yang asin, ada yang pedas, ada juga yang mengandung cabe rawit gelondongan di dalamnya. Saat itu, untuk pertama kalinya aku mendengar istilah Peh Cun juga penjelasan tentang kapan perayaan itu terjadi dalam penanggalan Cina.

Setelah pengalaman masa kecil itu, istilah Peh Cun kudengar lagi ketika SMA dalam pelajaran Bahasa Inggris. Salah satu bahan bacaan yang dipakai adalah tentang perayaan pesta air yang diselenggarakan pada Peh Cun. Entah mengapa, dibandingkan perayaan-perayaan tradisional Cina lainnya, Peh Cun lebih berkesan bagiku. Jadi meskipun pengalaman dan informasi yang kudapatkan sangat sedikit, aku mengingatnya terus.

Lama sesudah itu... setelah aku berkeluarga, aku bertetangga dengan keluarga keturunan Cina yang berasal dari Belitung. Beberapa hari menjelang Peh Cun, mereka membuat kue cang dan bacang dalam jumlah banyak dan menjualnya kepada tetangga-tetangga. Selain itu, aku juga melihat ada yang istimewa di Sungai Cisadane, yang mengalir di belakang Robinson, Tangerang. Ada banyak perahu-perahu dengan hiasan di sepanjang sungai. Rupanya dari dulu, orang-orang Cina di Tangerang memiliki tradisi merayakan Peh Cun dengan lomba perahu, dan kemudian diambil alih oleh pemda dengan Festival Cisadane yang diadakan di sekitar hari raya Peh Cun.

7 tahun terakhir, setelah kami pindah rumah, tidak ada lagi pengalaman yang membuatku ingat akan Peh Cun.

Di luar kenangan-kenangan tentang Peh Cun, ada satu kejadian yang melekat terus di benakku, yaitu fenomena berdirinya telur. Aku pernah mendengar kesaksian orang yang berhasil membuat telur berdiri. Kejadian yang hanya terjadi satu kali setahun secara teratur menurut penanggalan Cina, namun aku tidak mengingatnya. Hingga 3 tahun yang lalu, dengan "googling" aku mengetahui bahwa fenomena ini terjadi pada saat Peh Cun. Sayang, saat itu Peh Cun sudah lewat. Jadi aku harus menunggu beberapa bulan lagi.

Tahun lalu, Peh Cun jatuh pada hari Minggu. Aku mengeluarkan telur sejak pagi dari lemari es dan menunggu-nunggu telur-telur itu berdiri. Ternyata penantianku sia-sia, tidak satupun yang berdiri. Malamnya, aku menyaksikan berita di TV tentang orang-orang di klentek Boen Tek Bio yang berkumpul untuk membuat telur-telur berdiri. Ternyata telur harus dibuat berdiri, tidak bisa berdiri sendiri. Satu tahun lagi aku harus menunggu!

Tadi pagi, Sian Ing mengantarkan kue cang dan bacang ke rumah....hmm..... sudah lama sekali aku tidak mengalami ini! Ini keberuntungan pertamaku pada Peh Cun tahun ini. Kemudian, sama seperti tahun lalu, aku mengeluarkan telur-telur dari lemari es.





Pukul 12, aku mencoba membuat telur-telur berdiri.....horeeee....berhasil! Keberuntunganku yang kedua! Aku berhasil membuat 5 telur berdiri, sayang yang 2 jatuh sebelum diabadikan gambarnya. Tidak mudah untuk membuat telur berdiri. Perlu kesabaran dan ketenangan. Dan aku merasa beruntung sekali dapat menjadi saksi fenomena unik ini.



Keberuntunganku yang ketiga, balerinaku pulang dengan membawa 5 buah bacang dari temannya.... Ini adalah pengalaman Peh Cun-ku yang paling berkesan selama ini. Kupikir....aku beruntung pada Peh Cun tahun ini.

Sabtu, 06 September 2008

Gudang

Senin yang lalu aku bongkar gudang di Satria. Rumah mau dikosongkan agar dapat digunakan orang lain. Banyak barang yang harus dikeluarkan. Barang-barang yang disimpan sejak 30an tahun yang lalu.

Kerja 3 jam ternyata sudah banyak menguras tenaga dan keringat. Tidak hanya itu, semua reaksi alergi muncul. Mulai dari bersin, mata berair sampai gatal-gatal di sekujur tubuh. Penuh debu! Itupun ternyata tidak membuat gudang kosong. Masih banyak barang yang belum dikeluarkan.

Hal yang menarik adalah koleksi pertukangan Papa. Semua tersimpan dengan rapi. Mulai dari alat-alat yang disusun di papan yang dibuatnya sendiri sampai sekrup, baut, paku berbagai ukuran yang sudah dikelompokkan dalam kotak-kotak tersendiri. Belum lagi sekring, starter lampu neon, kawat berbagai macam ukuran, komponen-komponen kecil alat listrik yang semuanya tersimpan dalam kotak yang tersusun sistematis. Semuanya dalam kondisi bagus dan belum berkarat karena tersimpan dalam kotak tertutup, kecuali alat-alat pertukangan di papan terbuka. Koleksi seorang penggemar elektronika yang tidak dapat diwariskan karena tidak ada anak mantunya yang mempunyai hobby yang sama dengan Papa.

Ketika membongkar lemari inilah, aku baru mengerti mengapa dulu Papa membuat gudang ini. Gudang yang besar, jauh lebih besar daripada kamar tidurku saat ini. Gudang yang penuh dengan lemari dan rak yang dibuat dengan rapi, sehingga meski terisi penuh tidak menimbulkan kesan penuh dan berantakan. Pasti Papa membuatnya untuk mempermudah pencarian barang-barangnya yang bagi Papa sangat berarti. Sifat Papa yang mengutamakan kerapihan itulah yang menyebabkan Papa mendisain gudang sejenis ini. Saat itu gudang bukan tempat menyimpan barang bekas, tapi barang-barang bermanfaat yang selalu terpakai. Sayangnya, ketika Papa tidak ada lagi, barang-barang itu menjadi tidak bermanfaat lagi. Gudang menjadi tempat barang bekas, kemudian berubah fungsi menjadi tempat barang "dibuang sayang". Tapi, hari Senin yang lalu akhirnya nasib barang-barang itu berubah menjadi "loakan", demi kosongnya rumah.

Selasa, 26 Agustus 2008

Kembali ke Nusa Kambangan

Jumat dan Sabtu yang lalu aku kembali ke Nusa Kambangan. Bukan.... bukan sebagai mantan napi yang kembali menjadi napi. Aku ke sana dalam rangka bakti sosial untuk napi-napi yang tinggal di sana. Ini merupakan kunjuganku yang ketiga. Ada beberapa perubahan yang terlihat di sana dibanding kunjunganku sebelumnya.

Pertama, jumlah LP. Ketika aku mengunjungi pertama dan kedua kali, jumlah LP di Nusa Kambangan hanya ada 4 buah, yaitu LP Batu, LP Besi, LP Kembang Kuning, LP Permisan. Sejak tahun lalu, jumlah LP bertambah 1. Nama LP sebenarnya tidak aku ingat, karena LP ini lebih dikenal sebagai SMS (Super Maximum Security). Nama ini menunjukkan tingkat pengawasan yang tentu lebih tinggi dibanding LP lainnya. Ada 4 gerbang yang harus dilalui untuk memasuki LP tersebut, sedangkan LP lainnya hanya 2 gerbang. Setiap pengunjung yang akan masuk ke LP ini harus mendapatkan stempel satu kali di tangannya dan sekali lagi ketika keluar. Ada juga yang mengatakan SMS sebagai singkatan Super Mewah Sel. Meski tidak tepat susunan katanya, tapi cukup menjelaskan bahwa LP ini memang sangat mewah dibanding LP lainnya. Hanya di SMS saja dijumpai AC! Yah, memang LP ini dihuni oleh napi-napi khusus yang perlu penjagaan khusus dan pelayanan khusus, seperti Gunawan Santoso.

Kedua, kondisi jalan di Pulau Nusa Kambangan. Meskipun sama-sama beraspal, kondisi jalan saat ini sudah lebih baik. Pada bagian depan (yang aku maksudkan dengan bagian depan adalah bagian selatan pulau yang memiliki pelabuhan feri penyeberangan ke Pulau Jawa) jalan sudah dilapis ulang dengan hotmix. Perbaikan jalan masih berlangsung dan baru mencakup kira-kira setengah panjang jalan.

Ketiga, kondisi pantai Permisan. Pantai Permisan adalah pantai yang sangat indah, karena itu disebut Permisan yang merupakan akronim permai, indah, berkesan. Ada satu LP yang disebut sebagai LP Permisan, karena letakknya yang berdekatan dengan Pantai Permisan. Pantai Permisan merupakan pantai selatan Pulau Nusa Kambangan. Ombak keras Samudra Indonesia membuat batu-batu cadas di bibir pantai menjadi batu yang indah. Percikan air laut dengan kecepatan tinggi yang memukul batu cadas membuat suatu pemandangan indah berupa kabut di atas permukaan air laut. Foto di sebelah ini bukan foto yang buram, tapi memang batu cadas tampak samar-samar karena tertutup oleh kabut percikan air laut. Pantai ini dipakai oleh Kopassus untuk melakukan upacara pelantikan, tidak heran kalau di atas satu batu cadas tertancap pisau komando Kopassus dalam ukuran besar. Foto di samping memperlihatkan pisau komando yang berdampingan dengan pohon kelapa di atas cadas. Dalam kunjungan pertama dan keduaku, pantai ini dipakai oleh rombongan bakti sosial untuk acara makan siang. Ada bangunan berdinding beton dan beratap sirap yang kami pakai untuk duduk-duduk di pantai. Semuanya sekarang sudah tidak ada, karena terhapus oleh gelombang tsunami pada tahun 2006 yang lalu. Inilah perbedaannya. Bentuk pantai juga sudah berubah. Namun keindahan pantai Permisan masih tetap ada. Keindahan yang berbeda.

Jumat, 02 Mei 2008

1 minggu tanpa internet

Kompi di rumah beberapa hari ini mati. (gara-gara kelamaan dipakai 'kali ya?)
Internet di rumah sakit mati selama 2 minggu terakhir. Rasanya terputus dengan dunia luar. Banyak ide yang mau dituang ke sini akhirnya hilang begitu saja. Bawaannya jadi uring-uringan terus. Apa ini gejala kecanduan internet ya? (Sombong banget ya... belom juga 2 tahun kenal internet)

Hahaha.... ini kan gara-gara fastnet yang menawarkan internet murah. Dunia serasa langsung berubah setelah pasang fastnet. Dulu internet cuma dipakai untuk ambil dan kirim email,
sekali-sekali untuk cari referensi. Semuanya pakai perhitungan, jangan sampai tagihan bulanan tidak terbayarkan.

Dunia memang jadi berubah. Sekarang cari apa saja bisa lewat internet. Tahun lalu bisa beli banyak CD dan buku di amazon berkat internet. Ketemu lagi dengan teman-teman SMA gara-gara internet . Dapat teman-teman baru juga karena internet . Buku harian pindah ke internet. Setiap pagi belek di mata sangat tebal gara-gara internet juga

Kalau beberapa hari terakhir jadi tidak karuan gara-gara tidak bisa pakai internet.... apa iya ini gejala kecanduan internet? Kebetulan hari ini bisa nyambung lagi, langsung minta tolong Om Google cari tanda-tanda kecanduan internet. Salah satu hasilnya artikel di Intisari on the net. Ada 8 pertanyaan yang harus dijawab, kalau lebih dari 5 jawaban "YA", berarti sudah kecanduan internet.

Pertanyaan-pertanyaannya :
  1. Apakah Anda merasa keasyikan dengan Internet?
  2. Apakah Anda merasa perlu waktu tambahan dalam mencapai kepuasan sewaktu menggunakan Internet?
  3. Apakah Anda sering gagal dalam upaya mengontrol, mengurangi, atau menghentikan penggunaan Internet?
  4. Apakah Anda merasa gelisah, suka murung, depresi, atau lekas marah ketika berusaha mengurangi atau menghentikan penggunaan Internet?
  5. Apakah Anda mengakses Internet lebih lama dari yang Anda harapkan?
  6. Sudahkah Anda merasakan risiko kehilangan relasi yang penting, pekerjaan, kesempatan pendidikan atau karier, gara-gara Internet?
  7. Apakah Anda membohongi anggota keluarga, terapis Anda, atau yang lainnya untuk menyembunyikan keterlibatan yang lebih jauh dengan Internet?
  8. Apakah Anda menggunakan Internet sebagai jalan keluar mengatasi persoalan atau menghilangkan perasaan seperti keadaan tidak berdaya, rasa bersalah, kegelisahan, atau depresi?

1,2,4,5 ya... kurang dari 5 ... syukurlah, belum termasuk kategori kecanduan. Mungkin baru sampai tingkat penikmat internet, ya?

Rabu, 23 April 2008

Bukan Uncle Nick

Tunanetra itu digandeng oleh seseorang sebelum memasuki angkot yang kutumpangi dan duduk di hadapanku. Setelah itu dia mulai berbicara, dimulai dari menanyakan tujuan angkot ini. Ketika ada yang menjawab, "Saya gak tau, saya juga baru kali ini naik angkot ini", dengan galak dia menjawab, "Saya ga tanya orang yang gak tau, saya tanya orang yang tau." Jawabannya itu membuat seisi angkot menjadi tegang dan tidak ada yang mau meladeni pembicaraannya..

Meskipun tidak ada yang menanggapi, dia terus berbicara. Topik pembicaraannya berkisar tentang keluhan-keluhannya, mulai dari susahnya mencari pekerjaan, kemalangannya yang tidak bisa pulang karena tidak punya uang, sampai ketidakpedulian kerabatnya yang tidak memberinya ongkos pulang. Semuanya diucapkan dengan nada menggerutu. Sama sekali tidak menimbulkan rasa kasihan. Tidak ada satupun yang menanggapi pembicaraannya. Semua penumpang memperlihatkan wajah tegang, seolah-olah ada perampok di dalam angkot itu.

Untung aku tidak perlu berlama-lama di dalam angkot itu. Begitu sampai tempat tujuanku, aku turun. Aku membayar ongkosku dan ongkos tunanetra itu, bukan karena kasihan pada tunanetra itu tapi pada supir angkot.

Tunanetra itu memang bukan Uncle Nick dalam film Blind Fury. Sama-sama tidak perlu dikasihani. Bedanya, Uncle Nick tidak minta dikasihani sedangkan yang kujumpai tadi tidak layak dikasihani.

Selasa, 22 April 2008

40 hari meninggalnya Tante Kiem

Malam ini akan ada keramaian di rumah Tante Kiem, peringatan 40 hari meninggalnya Tante Kiem. Banyak yang sibuk demi terlaksananya peringatan hari ini, pasti karena banyak yang sayang Tante Kiem. Tante Kiem memang layak disayangi banyak orang. Selama hidupnya, Tante Kiem memang baik kepada semua orang. Selalu gembira dan tidak pernah mengeluh, rasanya. 25 tahun hidup sendiri tidak membuatnya kesepian, karena temannya banyak, keponakannya juga banyak, belum lagi cucu-cucu keponakan.

Tante Kiem selalu saja ingin memberi. Kegemarannya membuat kerajinan tangan membuatnya selalu ada alasan untuk memberi. Tahun-tahun terakhir hidupnya, Tante Kiem membuat kristik yang bergambar bintang dan shio cucu-cucunya. Setiap cucu dibuatkan 2 kristik yang telah dibingkai. Kemarin aku ke rumahnya, di kamar tempat Tante Kiem bekerja dan menyimpan karya-karya tangannya, kujumpai kristik bintang Aries. Ternyata kristik itu dulu dibuat untuk seorang calon cucunya, yang ternyata lahir beberapa hari setelah bulan yang dinaungi rasi bintang Aries berakhir. Jadi kristik itu tidak jadi diberikan.

Siapapun yang datang mengunjunginya pasti disuguhi sesuatu yang dapat dimakan, entah dibuatnya sendiri atau dibeli. Sekali waktu, aku datang pada hari puasaku. Tante Kiem merasa menyesal tidak bisa menyuguhi aku apa-apa dan menjanjikan bila aku datang lagi akan membelikan ayam kremes enak buatan tetangganya. Pada waktu lain, kami beberapa keponakan dan cucunya mengunjunginya bertepatan dengan saat Sincia. Tante Kiem sudah menyiapkan kroket-kroket mungil khas buatannya di lemari es. Semua orang yang datang pada hari akan mendapatkan kroket tersebut dalam keadaan hangat, karena Tante Kiem sengaja baru menggorengnya kalau tamu sudah datang.

Tante Kiem selalu menyenangkan orang lain dan tidak pernah menyusahkan orang lain, bahkan sampai meninggalnya. Tante Kiem meninggal dengan tenang pada pagi hari, tanpa merepotkan siapapun sebelumnya. Bahkan pembantu yang datang setiap hari sudah diberitahu agar tidak pulang bila pintu tidak dibukakan, karena mungkin Tante Kiem sudah meninggal. Bahkan duplikat kunci rumahnyapun diberikan kepada tetangganya, supaya tidak perlu repot merusak pintu apabila Tante Kiem terkunci di dalam.

Tante Kiem tidak pernah mau merepotkan orang lain. Kalau kemudian banyak orang yang menjadi repot ketika Tante Kiem meninggal, mungkin juga itu tidak disukai oleh Tante Kiem. Tapi Tante Kiem tidak bisa menolak. Kerepotan yang terjadi bukan karena Tante Kiem yang membuat, tapi itu semua merupakan ungkapan kasih orang-orang yang mengasihi Tante Kiem. Juga hari ini. Sejak beberapa hari, bahkan minggu sebelumnya, banyak orang repot. Tante Lan dan Tante Ing repot menyiapkan rumah Tante Kiem, menyiapkan makanan dan souvenir untuk acara hari ini. Liani khusus pulang ke Indonesia untuk hari ini. Semuanya sebagai ungkapan rasa sayang untuk Tante Kiem.

Kalau aku saat ini diam di rumah, tidak hadir di sana, bukan berarti aku tidak menyayangi Tante Kiem. Rumahku jauh, tidak ada kendaraan yang bisa ditumpangi malam ini. Selain itu, aku juga akan merasa asing dengan acara yang akan berlangsung malam ini, yaitu acara yang sangat katholik : missa arwah....

Kamis, 10 April 2008

Kecap selalu nomor satu ?

Lokasi : kios kosmetik di pasar

Aku : "Ada foundation R?"
Penjaga kios dengan baju berlogo merek kosmetik "I" : "Udah biasa pakai "R" ya? Ga mau coba yang lain?"
A : "Ya, biasa pakai R"
P : "Warnanya cuma tinggal ini"
A : "Gapapa, biasanya juga warna ini"
P : "Ga mau coba "I", Bu?"
A : "Engga, ini aja. Kalo compact powdernya ada?"
P : "Terlalu keras lho, Bu. Pakai "I" aja."
A : "Engga, udah biasa pakai "R" kok."

Wajahnya mulai menunjukkan ketidakramahan. Tapi aku tetap dilayani, sampai proses transaksi selesai.
Hampir bisa dipastikan, penjaga kios itu adalah SPG kosmetik "I" yang ditempatkan di kios itu. Ada target penjualan yang sedang dikejarnya, karena itu segala usaha dilakukannya termasuk menjelek-jelekkan produk lain agar produknya laku.

Ini baru contoh dalam lingkup yang kecil, di sebuah kios di tengah pasar. Dalam skala yang lebih besar jelas nampak pada iklan-iklan yang ditayangkan di TV. Menjual produk seraya menjelek-jelekkan produk lain adalah hal biasa. Istilah "kecap selalu nomor satu" sudah tidak berlaku lagi, karena istilah ini mengijinkan produsan kecap manapun boleh menyebut produknya sebagai nomor satu. Istilah yang lebih tepat bagi persaingan dunia usaha saat ini adalah " Kecapku nomor satu, kecap lain bukan kecap, jadi jangan dikonsumsi!"
 
Copyright 2009 Kupikir.... Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase