Kamis, 12 Maret 2009

Belalang berhidung mancung

Lain ladang, lain belalang. Pada 2 ladang tidak terlalu jauh jaraknya, ternyata bisa didapati belalang yang berbeda. Keberadaanku di Kupang 17 tahun yang lalu merupakan pengalaman pertamaku berada di ladang yang berbeda. Jadi maklum saja kalau aku sempat dikagetkan dengan belalang yang berbeda yang kujumpai di sana.

Masih sama-sama berada di Indonesia, ternyata ada beberapa kebiasaan khas orang Kupang yang tidak dijumpai di Jakarta. Ada kebiasaan-kebiasaan yang membuatku merasa risih ketika pertama kali melihatnya, tapi lama kelamaan menjadi biasa karena sering menjumpainya, misalnya gandengan-tangan di antara sesama laki-laki. Kalau di Jakarta hal ini mengesankan orientasi seksual yang tidak lazim di antara keduanya, ternyata di Kupang menunjukkan ikatan persahabatan yang baik.

Ada juga kebiasaan yang menambah ketrampilanku, yaitu kebiasaan menari. Orang NTT, dan rasanya hampir seluruh suku bangsa di Indonesia, biasa mengungkapkan rasa syukur, sukacita dengan menyelenggarakan pesta. Dalam setiap pesta ada hal yang tidak akan dilewatkan, yaitu menari. Semua orang NTT pasti dapat menari. Dalam suatu pesta, aku pernah menyaksikan seorang anak berusia sekitar 6 tahun menarikan gerakan cha-cha-cha dengan baik sekali. Ada 2 buah tarian rakyat yang selalu ditarikan dalam pesta, yaitu terasering dan rokatenda. Gerakan terasering mirip dengan poco-poco, dimana semua berdiri dalam satu arah kemudian melakukan gerakan ritmis bersama-sama. Tarian ini cukup mudah dipelajari. Sedangkan rokatenda (nama sebuah gunung berapi di Flores) agak sulit karena terdiri atas beberapa seri meskipun tiap seri merupakan variasi dari gerakan inti yang sama. Tarian ini dilakukan dalam sebuah lingkaran.

Mungkin ada hubungannya dengan kebiasaan berpesta, kendaraan umum di kota Kupang -disebut bemo- yang menarik bagi calon penumpang adalah bemo yang dilengkapi dengan bunyi musik keras dan hiasan interior dan eksterior yang menyolok. Kalau bemo tidak diberi hiasan, apalagi tanpa musik, bisa dipastikan jauh dari rejeki.

Ada kebiasaan yang berbeda 180 derajat dibandingkan kebiasaan orang Jakarta, yaitu cara berbicara. Orang Jakarta biasa menyingkat kata dengan mengambil bagian akhir kata, misalnya udah atau dah untuk kata sudah, bis untuk kata habis, aja untuk kata saja. Orang Kupang kebalikannya, menyingkat kata dengan mengambil bagian awal kata, misalnya su untuk kata sudah, pi untuk pergi, sa untuk saja. Aku memerlukan waktu cukup lama untuk membiasakan telingaku menangkap kata-kata mereka yang umumnya diucapkan dengan cepat. Tidak boleh ada yang tersinggung kalau ada orang yang berkata,"Lu sa pi", karena ini berarti "Kamu saja yang pergi"

Ada satu kebiasaan yang sebetulnya menarik, tapi tak dapat kulakukan, bukan karena merasa "tidak sreg" atau tidak mempunyai ketrampilan khususuntuk melakukannya, tapi hanya karena masalah anatomi muka. Pertemuan dua orang biasanya dilakukan dengan cara bersalaman sambil saling menempelkan hidung dan kemudian menggesekkannya. Hal ini tidak mungkin dilakukan olehku yang berhidung pesek ini, bisa-bisa yang menempel bukan hidung tapi bibir! Salam 'hidung' ini biasanya dilakukan oleh dua orang yang cukup akrab, sedangkan untuk yang orang yang baru dikenal atau kurang dikenal, salam dilakukan dengan cara saling menempelkan batang hidung ke pipi. Salam seperti inilah yang sering kulakukan, misalnya ketika memberi selamat kepada penyelenggara pesta. Inipun agak sulit kulakukan lagi-lagi karena tulang hidungku tidak cukup tinggi. Jarang sekali aku berhasil menempelkan hidungku di pipi orang yang kusalami karena pada saat yang bersamaan aku juga harus memberikan pipiku untuk ditempeli hidungnya. Ada rasa "kenyal-kenyal empuk" di pipiku.....

Ladang yang ini memang dihuni oleh belalang -belalang yang mancung-mancung!

Jumat, 06 Maret 2009

PENGALAMAN PERTAMA, MEMBEKAS HINGGA BELASAN TAHUN

Pagi itu, pukul 4.30 suasana bandara Soekarno-Hatta lengang. Aku lupa apa yang membuatku berpikir saat itu bandara belum buka. Hehehe... emangnya restoran! Yang jelas aku melihat ada karyawan yang baru datang, mungkin yang akan bergiliran jaga dengan karyawan yang bertugas malam. Lalu ..... ada satpam yang membuka rolling door yang membatasi teras dan ruang tempat check-in. Apa iya...ada rolling door ya? Entahlah... yang jelas pk. 4.30 umumnya orang masih tidur, tapi di teras keberangkatan Garuda internasional ada banyak orang wajah-wajah sembab, entah kurang tidur atau terlalu banyak menangis karena harus berpisah dengan keluarga. Itulah kami.

Kami adalah rombongan dokter gigi yang selama 3 minggu sebelumnya mengikuti pelatihan pra-jabatan di Lemah Abang – Bekasi. Hari itu kami diberangkatkan ke daerah masing-masing yang telah kami pilih sebelumnya. Rombongan pertama yang berangkat adalah rombongan yang menuju Irian Jaya (maaf kalau nama ini yang dipakai, sesuai dengan konteksnya) dengan pesawat yang berangkat pk 5.00. Aku masih sempat melihat beberapa teman tujuan Irian Jaya tergopoh-gopoh memasuki ruang check-in. Yah, resiko memililh tempat terjauh, jadi berangkatpun harus lebih dahulu.

Tepat pk 5.00 rombongan yang menuju NTT dan TimTim (saat itu masih merupakan wilayah Indonesia) diijinkan masuk ruang check-in. Kami terdiri dari 7 orang yang akan mendarat di Kupang dan sekitar 13 orang mendarat di Dili. Rasanya aku ingin menjadi yang terakhir memasuki ruangan itu supaya menjadi orang terakhir dalam rombongan yang berpisah dengan keluarganya. Tapi ternyata semua juga berpikir demikian.... bisa-bisa kami ketinggalan pesawat! Akhirnya kami semua saling mendorong untuk segera masuk.

Setiap ada kesempatan, aku berusaha menoleh ke teras, mencari-cari wajah orang-orang yang kukasihi, kemudian melambaikan tangan bila ternyata mereka masih terlihat ... berulang-ulang.... Semakin ke dalam aku berjalan, wajah-wajah mereka makin tidak jelas, hingga yang terlihat tinggal sosoknya saja. Mungkin sebetulnya mereka sudah pulang, tapi aku terus membayangkan seolah-olah masih melihat sosok mereka bahkan ketika sudah sampai di lorong menuju ruang tunggu penumpang. Lorong yang dikelilingi jendela kaca dan dihiasi tanaman hias di bagian luarnya.

Meski dalam rombongan yang masing-masing sudah cukup akrab semenjak mengikuti pra-jabatan, aku merasa nelangsa ketika berjalan melalui lorong ini. Tanaman hias warna-warni itu juga tidak mampu menghilangkan perasaan ini. Ini adalah pengalaman pertamaku menaiki pesawat terbang, pergi ke tempat yang cukup jauh dari Jakarta dalam jangka waktu panjang, tanpa seorangpun anggota keluarga yang menemani. Pengalaman berjalan di lorong dengan perasaan nelangsa itu selalu muncul kembali setiap kali melalui lorong sejenis di bandara, bahkan hingga saat ini. Rasa kesepian yang mencekam.....

Jumat, 06 Februari 2009

Kupikir aku sakti ....

Selama ini aku punya kebanggaan sebagai orang yang bisa dibilang tidak pernah jatuh sakit. Artinya sakit yang memaksaku terkapar di tempat tidur berhari-hari dan tidak bisa beraktivitas apa-apa. Sakit terparah yang pernah kualami hanya 2 hari demam atau 1 hari diare. Pernah juga terpaksa harus terkapar 4 hari di rumah sakit, itu juga bukan karena aku sakit tapi karena baru menjalani operasi sectio caesaria untuk melahirkan balerinaku. Dan sesungguhnya selama 4 hari itu aku tidak terkapar. Kupikir aku ini memang sakti...

Kesaktianku kudapat dari hasil tempaan selama 40 tahun hidup nyaris tanpa antibiotika. Dalam tahun-tahun pertama hidupku, aku terbiasa bermain sambil menantang angin tanpa baju yang menutupi tubuh. Didukung makanan sehat secukupnya yang diberikan orangtuaku. Bisa dibilang, aku jarang sakit, dalam satu tahun belum tentu aku terkena batuk-pilek. Rapor SD hingga SMA ku bersih dari absen. Kalaupun terkena demam, hanya dengan 2 atau 3 kali minum asam asetil salisilat, sembuh. Kupikir aku ini memang sakti...

Ketika kuliah, hidupku lebih jorok. Makan siangku seringkali dilakukan di atas parit besar di depan kampus yang berhadapan langsung dengan jalan raya. Tampaknya ini justru mempertajam kesaktianku. Ups... tidak persis demikian. Untuk pertama kalinya aku kena flu berat yang membuatku demam dan menggigil hingga 2 hari. Aku kena sinusitis dan diberikan antibiotik entah golongan apa yang betul-betul tokcer, baru minum 2 kapsul...langsung sembuh. Terapi antibiotika pertama dalam hidupku. Kupikir aku masih sakti....

Hidupku selanjutnya ketika menyerahkan diri ke daerah endemik malaria selama 2 tahun memberi pengalaman unik bagi diriku. Udara yang panas disertai angin kencang tidak membuatku sakit. Mungkin parasit malaria pernah mampir di tubuhku, tapi aku tidak pernah mengalami gejala-gejala penderita malaria umumnya. Paling banter, di bulan-bulan terakhir, pada hari-hari lemahku tiap bulan aku mengalami demam selama 1 hari yang hilang sendiri keesokan harinya. Kupikir aku ini memang betul-betul sakti....

Setelah menjalani hidup bersama guru hebatku, kesaktianku makin terasah dengan mengicipi makanan segala rupa, mulai dari mi tek-tek sampai tahu gejrot, mulai dari sang-sang sampai RW, mulai dari sup ular sampai bahn mi thit, mulai dari tom yam soup sampai lasagna. Kupikir aku ini sakti.....

Aku begitu yakin dengan kesaktianku yang tanpa vaksinasi hepatitis ternyata aku bebas hepatitis meskipun pekerjaanku tergolong kelompok resiko tertinggi terinfeksi. Hingga April tahun lalu, aku tidak habis pikir bagaimana aku bisa terkena demam berdarah! Disusul pengalaman terkapar akibat tifus selama 2 minggu yang baru lalu. Ternyata kesaktianku bisa berkurang. Mungkin kini faktor "U" banyak mengambil peran. Kupikir aku mulai kehilangan kesaktianku.....hiks....

Minggu, 01 Februari 2009

Langkah pertama - kenekadan mengatasi rasa takut

Pertama kali aku mendengar istilah "Segala sesuatu harus dimulai dengan langkah pertama" adalah ketika Valen mengucapkannya tahun 1992. Mungkin sebelumnya pernah ada yang menyebutkannya atau pernah kubaca, tapi tidak bermakna mendalam bagiku. Waktu itu belum ada PDGI cabang NTT. Tidak ada yang berani memulai, karena ragu-ragu melihat medan yang sulit ditempuh untuk mempertemukan seluruh dokter gigi se-NTT. Tidak ada yang berani mencalonkan diri menjadi ketua, mungkin merasa sungkan dengan beberapa dokter gigi senior yang sudah berada di Kupang selama belasan atau puluhan tahun. Ketika suara terbesar memilih Valen untuk menjadi ketua, kata sambutannya diawali dengan istilah di atas. Dia bersedia melakukan langkah pertama itu dan setelah itu PDGI cabang NTT mulai tumbuh...entah bagaimana keberadaannya sekarang.

Bukan PDGI cabang NTT yang mau kubicarakan di sini. Tapi istilah "Segala sesuatu harus dimulai dengan langkah pertama". Seringkali bagian tersulit dari suatu pekerjaan adalah melakukan langkah pertama.

Ada rasa ragu ketika aku pertama kali menginjak pedal untuk menggerakan motor pemutar mata bor di dalam handpiece. Takut kalau mata bor itu berputar terlalu cepat dan menggerinda jaringan gigi yang sehat. Ternyata yang membuat mata bor salah menggerinda bukan besarnya tekanan kakiku pada pedal, tapi tremor tanganku yang menggetarkan handpiece. Perlu beberapa kali latihan dan sedikit kenekadan untuk membiasakan koordinasi kaki dan tangan dalam mengontrol gerakan mata bor. Syukurlah tahap ini aku lalui dalam usia mudaku, sehingga tidak terlalu sulit untuk melakukan langkah pertama mengebor gigi. Gigi asli, namun yang sudah tercabut dari rahang dan ditanam pada rahang tiruan yang terbuat dari gips.

Ada langkah pertama yang cukup sulit dilakukan karena terjadi ketika aku tidak muda lagi, yaitu ketika belajar mengendarai motor. Terlalu banyak hal yang aku pertimbangkan, sehingga kadar nekadku sangat kecil dibandingkan pertimbangan-pertimbanganku. Ketika sekali waktu motorku jatuh di U turn, hal ini membuatku takut untuk mulai belajar lagi. Perlu waktu berbulan-bulan dan diomeli guru hebatku serta tentunya kenekadan untuk membuatku berani untuk belajar lagi.

Ada sebuah langkah pertama yang prosesnya sangat lama. Perlu waktu 30 tahun bagiku untuk menciptakan momen bernafas selama berenang. Aku belajar berenang sejak usia 13 tahun. Setiap minggu aku berenang dengan rombongan sekolahku. Dari pertemuan tiap minggu itu, aku belajar berenang dengan gaya bebas, gaya punggung, gaya katak. Hanya satu kekuranganku, yaitu tidak mengambil nafas selama berenang. Hanya satu, tapi artinya aku tidak bisa berenang! Banyak orang berusaha mengajarkanku mengambil nafas, mulai dari guru olahraga yang memang kewajibannya sebagai guru sampai teman-teman yang merasa kasihan melihatku berenang dengan gayaku. Semua orang yang berusaha mengajariku pasti sudah melihatku yang keselak air setiap kali mau mengambil nafas. Aku baru berhasil mengambil nafas dengan benar belum lama ini. Ternyata bukan kenekadan yang diperlukan untuk mengambil nafas, tapi ketenangan pada saat mengubah arah wajah dari menghadap air menjadi menghadap udara. Semudah itu. Langkah pertama yang harus diperjuangkan selama 30 tahun! Setelah itu aku sangat menikmati renang.

Langkah pertama belum tentu bermanfaat. Kadang-kadang setelah melalui perjuangan berat untuk melakukan langkah pertama, ternyata tidak ada apa-apa di depan. Atau setelah langkah pertama dilalui dengan berat, juga beberapa langkah selanjutnya, ternyata jalan yang diambil salah, karena ada jalan lain yang sangat mudah dilakukan tanpa perlu perjuangan berat untuk melakukan langkah pertama.

Saat ini aku belum berhasil melakukan langkah pertama untuk scuba diving : mencemplungkan diri ke dalam air dengan cara melangkah ke dalam air. Aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku takut untuk masuk ke air dengan cara melangkah. Meskipun aku pernah melakukannya sekali, aku tidak tahu apa yang membuatku mampu melakukannya. Tidak ada yang kuingat, tau-tau aku sudah berada di air. Yang pasti aku tetap dapat melakukan scuba diving tanpa perlu melangkah ke dalam air sebelumnya, karena aku dapat masuk air dengan cara menjatuhkan punggung lebih dahulu. Golongan langkah pertama yang mana ya ini?

Senin, 12 Januari 2009

BISUL 3 BULAN

Aku punya 2 "bisul" selama 3 bulan ini. Bisul yang bikin kulit di sekitarnya tegang, kadang-kadang menyakitkan. Tanggal 3 Januari yang lalu, bisul pertama sudah pecah, disusul yang kedua 1 minggu kemudian, Sabtu kemarin. Lega rasanya.

Terakhir terlibat di kepanitiaan rasanya sudah lamaaaaaa.... sekali. Selama ini lebih banyak menjadi penonton dan penikmat saja. Entah kenapa, bisa bersamaan, tau-tau kok aku ditunjuk jadi panitia reuni SMA sekaligus juga panitia kebersamaan keluarga pendeta. Herannya lagi, dua-duanya "kerjaan tukang", yang pertama jadi sekretaris, yang kedua jadi seksi publikasi dan anggota seksi dokumentasi. "Kerjaan tukang"?

Ternyata jadi sekretaris itu bukan cuma mencatat risalah rapat atau membuat surat, tapi juga bikin denah lokasi, mencari alamat pendeta dan majelis jemaat yang akan dikirimi undangan , fotokopi surat, melipat, menyisipkan pamflet, memasukkan ke amplop, mengelim, menempelkan alamat surat, mengatur distribusinya. Jumlah surat 400-an eksemplar. Gemporlah fisik awak! Terakhir aku jadi sekretaris duluuuuu sekali, 20 tahun yang lalu, itupun cuma sekretaris komisi pemuda jemaat, yang ruang lingkupnya sangat kecil. Tidak ada pengalaman sama sekali, jadi rangkaian kerja di atas baru selesai dalam 1 minggu!

Belum selesai.... karana setelah terkirim, aku juga harus menjadi menerima pendaftaran juga karena tidak ada seksi pendaftaran. Belum lagi mengirim sms untuk minta konfirmasi karena setelah 1 minggu baru 2 orang yang merespon surat undangan.... membalas sms, mencatat di daftar calon peserta, bahkan sampai 1 hari sebelum acara, masih ada yang baru mendaftar, membatalkan kehadiran.... Betul-betul pekerjaan tukang! Karena itu aku sama sekali tidak mau terlibat dalam persiapan acara, biarkan sie acara yang sibuk menyusun acara dan menyiapkan perlengkapan.

Seksi Publikasi dan anggota seksi dokumentasi panitia reuni... kerjaan tukang?
Yang pertama sebetulnya bukan, karena aku menyukainya. Tidak terlalu banyak menguras tenaga. Ini sebetulnya tugas utamaku sejak bulan agustus. Tapi ketika ada pengunduran diri beberapa orang, aku dipaksa masuk ke seksi dokumentasi. Beda dengan seksi dokumentasi umumnya (entah ini salah istilah atau umumnya yang salah istilah, kerja seksi ini tidak ada hubungannya dengan dokumentasi pelaksanaan acara. Yang dilakukan seksi ini adalah pengumpulan data alumni. Ini artinya harus mengontak, mencari teman-teman yang belum jelas rimbanya. Memang, tinggal menyelesaikan sedikit lagi, tapi waktunya juga tinggal sedikit. Tidak seluruh data alumni terkumpul, karena ada beberapa orang yang memang tidak meninggalkan jejak di manapun sehingga tidak terlacak.

Setelah itu aku juga dilibatkan dalam memeriksa pembuatan buku yang berisi data alumni.... lumayan bikin mata jereng lah! Jangan heran kalau setelah itu aku minta cuti dulu 10 hari.... menyepi, mengolesi bisul dengan salep supaya tidak terlalu tegang dan sakit.

Tanggal 3 Januari, bisul pertama pecah.... ketegangan sudah berkurang dan tampaknya bisul kedua juga mulai mengecil sedikit-sedikit, jadi tidak terlalu terasa menyakitkan. Pecahnya bisul kedua pada tanggal 10 kemarin rasanya betul-betul membuat lega.... selesai juga! Bisul-bisul itu membuatku tidak punya waktu untuk menulis di blog. Selama 3 bulan, aku hanya sempat 3 kali membuka blog-ku dan selalu terheran-heran.... tanpa ada artikel baru, ternyata pengunjung blog-ku naik pesat...
Bisul-bisul itu juga membuatku tidak sempat membaca email dari milis greenlifestyle dan indonesia choral lovers..... juga tidak mengijinkanku untuk terlibat dalam konser Asian Culture....(untungnya masih sempat ikut nyanyi di pernikahan Pak Anton!). Masih banyak hal-hal menarik yang tidak sempat kulakukan gara-gara bisul-bisul itu...

eh.... meskipun ada bisul, aku sempet belajar diving juga lho di tempatnya Agung. Meski hanya teori (udah lulus nih....) dan 1 kali praktek di kolam renang. Dunia baru yang menggoda......

Senin, 06 Oktober 2008

Libur Lebaran

Satu minggu berlibur dari rutinitas.... nikmatnya
Bangun siang
Tidak usah mandi buru-buru
Jadi penguasa dapur
Buat dua Lubang Resapan Biopori baru
Mandi keringat tanpa rasa sungkan
karena tidak bertemu siapa-siapa
Tidak perlu lihat mulut pasien
Cuti internet

Sabtu, 06 September 2008

Gudang

Senin yang lalu aku bongkar gudang di Satria. Rumah mau dikosongkan agar dapat digunakan orang lain. Banyak barang yang harus dikeluarkan. Barang-barang yang disimpan sejak 30an tahun yang lalu.

Kerja 3 jam ternyata sudah banyak menguras tenaga dan keringat. Tidak hanya itu, semua reaksi alergi muncul. Mulai dari bersin, mata berair sampai gatal-gatal di sekujur tubuh. Penuh debu! Itupun ternyata tidak membuat gudang kosong. Masih banyak barang yang belum dikeluarkan.

Hal yang menarik adalah koleksi pertukangan Papa. Semua tersimpan dengan rapi. Mulai dari alat-alat yang disusun di papan yang dibuatnya sendiri sampai sekrup, baut, paku berbagai ukuran yang sudah dikelompokkan dalam kotak-kotak tersendiri. Belum lagi sekring, starter lampu neon, kawat berbagai macam ukuran, komponen-komponen kecil alat listrik yang semuanya tersimpan dalam kotak yang tersusun sistematis. Semuanya dalam kondisi bagus dan belum berkarat karena tersimpan dalam kotak tertutup, kecuali alat-alat pertukangan di papan terbuka. Koleksi seorang penggemar elektronika yang tidak dapat diwariskan karena tidak ada anak mantunya yang mempunyai hobby yang sama dengan Papa.

Ketika membongkar lemari inilah, aku baru mengerti mengapa dulu Papa membuat gudang ini. Gudang yang besar, jauh lebih besar daripada kamar tidurku saat ini. Gudang yang penuh dengan lemari dan rak yang dibuat dengan rapi, sehingga meski terisi penuh tidak menimbulkan kesan penuh dan berantakan. Pasti Papa membuatnya untuk mempermudah pencarian barang-barangnya yang bagi Papa sangat berarti. Sifat Papa yang mengutamakan kerapihan itulah yang menyebabkan Papa mendisain gudang sejenis ini. Saat itu gudang bukan tempat menyimpan barang bekas, tapi barang-barang bermanfaat yang selalu terpakai. Sayangnya, ketika Papa tidak ada lagi, barang-barang itu menjadi tidak bermanfaat lagi. Gudang menjadi tempat barang bekas, kemudian berubah fungsi menjadi tempat barang "dibuang sayang". Tapi, hari Senin yang lalu akhirnya nasib barang-barang itu berubah menjadi "loakan", demi kosongnya rumah.
 
Copyright 2009 Kupikir.... Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase