Kamis, 20 Maret 2014

Di pasar swalayan

Ini hasil pengamatanku di kasir pasar swalayan. Bagi pèmbeli yang tidak bawa tas, fungsi kasir adalah memindai barang belanjaan dan memasukkannya ke dalam tas kresek. Tapi bagi pembeli yang membawa tas sendiri, fungsi kasir hanya sebatas memindai belanjaan. Pembeli harus menata sendiri arang belanjaannya.

Aku biasa membawa tas belanja sendiri dan sudah terbiasa memasukkan sendiri belanjaan ke dalam tas. Jadi selama ini tidak pernah merasa hal ini sebagai masalah penting. Tapi tadi baru mikir...sepertinya pihak manajemen pasar-pasar swalayan seharusnya melatih kasir-kasirnya untuk membiasakan diŕi dengan menata barang-barang bukan hanya di kantong kresek,tapi juga di tas milik pembeli. Karena mungkin salah satu penyebab orang malas membawa tas belanja sendiri karena tidak dilayani kasir waktu memasukkan belanjaan ke dalam tas....yah...gitu deh ..... hingga sekarang, umumnya orang Indonesia itu kan maunya dilayani...

Judulnya : aku bosan kampanye bawa tas belanjaan sendiri dan disapa"go green ya?" Aku sudah bertahun-tahun tidak "go green" tapi "think green". Be a green thinker is not my life style but my way of life. 

Jamur

Ada sejenis jamur yang sering kubeli di pasar. Aku lupa nama jamurnya, sebutlah jamur blablabla. Jamur tumbuh di dalam kotak plastik dan dikemas dalam kantong plastik Produksi Korea. Di pasar dijual dengan harga Rp. 10.000,-. Setelah dibeli, jamur ini masih bisa disimpan di dalam lemari es selama beberapa hari.

Kupikir.....
Jamur ini murah sekali, mengingat negara asal produsennya, ongkos budidayanya, pengemasannya dan ongkos kirimnya. Aku iri karena Indonesia memiliki udara dan suhu yang kondusif bagi pertumbuhan jamur, tapi tidak memiliki teknologi ini. Jamur-jamur yang tumbuh dan dikonsumsi di Indonesia semuanya berusia paling lama 1 hari. Setelah itu layu. 

Beberapa hari yang lalu di keranjang Takakura-ku ada banyak benda-benda halus berwarna putih seperti gumpalan kapas. Sebetulnya hal ini sering muncul. Biasanya setelah beberapa hari menjadi hitam. Tadi siang, saat aku memasukkan sampah baru, ada beberapa pucuk jamur. Ada yang terselip di antara tumpukan sampah. Ada yang tumbuh keluar dari jaring. 

Kupikir... 
bentuknya persis sama dengan jamur blablabla yang minggu lalu kupakai untuk membuat sup. Waktu itu aku membuang akar jamur yang berwarna kehitaman di keranjang Takakura. Rupanya suhu dan kelembaban keranjang ideal bagi spora jamur blablabla untuk membelah diri. Ditambah nutrisi tinggi dari sampah lainnya, maka berkembang-biaklah dia. 

Kupikir...
Gumpalan-gumpalan seperti kapas yang terlihat beberapa hari yang lalu adalah benang-benang hifa yang  banyak. Tadi siang kulihat masih banyak gumpalan-gumpalan kapas itu. Mungkin beberapa hari lagi banyak yang jadi jamur.

Kupikir...
Asik juga ya kalau bisa beternak jamur di halaman rumah sendiri....

Minggu, 02 Februari 2014

Alpukat

Entah nama yang benar apa. Alpukat, alpokat, alpuket, avocado.....yang jelas buah ini ternyata enak kalau dimakan saat "mateng pu'un" tanpa campuran apa-apa.

Dari kecil, aku makan buah ini selalu dicampur kopi, susu dan gula atau dalm bentuk jus. Tahun 1993 di kapal feri dari Kupang ke Larantuka, aku terkejut melihat seorang Mama makan buah itu dengan cara menyendoknya dari kulitnya.
Kupikir....apa rasanya ya?

Tahun 2013 di Maumere dan Larantuka, aku makan buah itu dengan cara yang sama seperti Mama di feri. Wah.....ternyata memang enak sekali! Rasanya manis dan gurih. Setelah itu, di pasar aku selalu mencari buah itu dan tidak pernah menemukan buah yang seenak di Flores.
Kupikir...... saat itu buah ini hanya enak kalau tumbuh di Flores.

Minggu lalu, ada yang panen buah ini di kebun rumahnya. Aku kebagian banyaaaaak. Buahnya besar-besar dan yang penting rasanya sama seperti yang kudapati di Flores!
Kupikir.... sebetulnya buah ini terasa enak di Flores karena dimakan setelah "mateng pu'un". Di pasar Tangerang tidak pernah ada yang menjual buah ini dalam keadaan "mateng pu'un". Makanya tidak pernah ada yang menjual buah yang enak. Yang sekarang ada di rumahku adalah buah-buah yang "mateng pu'un". Makanya enak.

Kupikir....
Memang tidak mungkin menemukan buah "mateng pu'un" di Jakarta. Karena proses distribusi pànjang yang harus ditempuh untuk sampai ke tangan konsumen. Kalau dipetik saat "mateng pu'un", tentu sudah busuk begitu tiba di tangan konsumen.

Kupikir....
Enak sekali jadi orang Flores yang bisa makan buah "mateng pu'un" yang enak.

Kupikir.....
Enak sekali orang yang punya pohon buah sehingga bisa makan buah "mateng pu'un" yang enak.

Kupikir....
Enak sekali diriku yang bisa makan buah "mateng pu'un" yang enak tanpa harus ke Flores atau menanam pohonnya.

Sabtu, 18 Januari 2014

Kepiting bakau

Untuk pertama kalinya aku makan kepiing bakau menjelang Natal 2013 lalu saat menginap di rumah Emmy Wuwur di Magepanda. Pagi hari sesudah misa, kami ke hutan bakau Baba Akong di Reroroja. Begitu tiba, kami berpapasan dengan anak-anak yang baru pulang menangkap kepiting bakau. Warnanya hitam dan yang istimewa adalah capitnya yang besar. Ngiler melihatnya, aku beli semua kepiting yang mereka bawa. Satu renceng berjumlah 6 kepiting plus 1 kepiting soka.

Bla bla bla...tentang hutan bakau sudah kutulis di sini.

Singkat kata, siangnya kepiting-kepiting itu dimasak. Tadinya Emmy mau membuat bumbu. Kuusulkan direbus saja tanpa perlu bumbu. Rupanya Emmy tidak pernah makan apalagi memasak kepiting. Jadi Emmy muai merebus air. Setelah mendidih, kepiting dimasukkan. Tidak lama, menurutku kepiting sudah matang. Jadi langsung diangkat.

Waktunya makan. Seperti biasa, kupakai ulegan untuk memecahkan cangkang kepiting......ya ampun! Cangkang kepiting bakau ternyata jauh lebih tebal dan keras dibandingkan kepiting pantai, apalagi dibandingkan rajungan! Icip punya icip....kok rasanya pahit ya? Emmy yang belum pernah makan kepiting juga merasakan anehnya rasa kepiting itu. "Ini belum masak. Direbus lagi saja". Jadi kepiting direbus lagi.

Betulll.....setelah direbus lagi ternyata kepiting jadi enak rasanya. Rasa gurih dan manisnya keluar. Rupanya karena cangkangnya yang tebal, panas air perlu waktu lebih lama untuk menembusnya.

Emmy sekeluarga sama sekali tidak mau akan kepiting-kepiting itu. Hanya Florida yang mau ikut makan. Wah......aku biasanya makan 1 kepiting bertiga. Sekarang makan 4 kepiting sendirian. Kolesterooooooolllll......

Kamis, 16 Januari 2014

Kunci motor

Tadi di kios sembako langganan di pasar kulihat monitor cctv. Ada 4 kamera untuk kios pojok seluas kira-kira 4x4 meter. Prihatin. Bukan karena bukan karena ide pemasangan cctv-nya. Yakin, pasti si boss punya masalah dengan keamanan arang-barang dagangannya sebelumnya. Prihatin karena di kota besar ini kejujuran susah diperoleh.

Jadi ingat kejadian tahun lalu di Larantuka saat Semana Santa. Kota penuh peziarah. Banyak motor diparkir di halaman kathedral. Yang unik, ada papan peringatan  "Dilarang mengunci motor".

Selidik punya selidik.....ternyata alasannya supaya motor mudah dipindahkan kalau ada mobil yang mau lewat atau ada motor lain yang mau parkir. Bahkan ada yang membiarkan kunci motor dibiarkan tergantung. Aman-aman saja.

Indahnya hidup tanpa kecurigaan dan rasa takut kemalingan.

Senin, 08 April 2013

Aneh!

Aneh...gak pernah diminta untuk baksos, tau-tau dapet surat ngingetin untuk dateng saat baksos. Seminggu kemudian baksos dibatalin. Alesannya, dokternya ga bisa ( kayanye gw bukan dokter neh...). eh....gak berapa lama, dapet SMS :
+ Bu, posisi di mana?
- Di rumah. Ada apa ya?
+ sudah terima surat untuk baksos tgl "sekian" di "suatu tempat"?
- Belum
+ Oya, Suratnya dititip sama "si X". Dokter ada waktu tgl "sekian" untuk baksos?
(tumben... ditanya)
Di jaman yang katanya komunikasi udah canggih ini, sepertinya mulut udah ga dianggap sebagai alat komunikasi ya?

Minggu, 30 September 2012

Lagi, tentang penayangan nyanyian jemaat melalui LCD

Sudah 2 tahun sejak aku menulis curahan hati tentang ini di sini. Selama itu aku terus beribadah di tempat yang menggunakan LCD untuk menayangkan seluruh detail rangkaian ibadah, termasuk nyanyian jemaat. Buku nyanyianpun tersedia di tempat duduk. Semua masih rapi, jarang dibuka (kalau tidak boleh disebut  "tidak pernah dibuka").

Aku sama sekali tidak menyangkali kebutuhan manusia akan teknologi komputer. Teknologi komputer sangat menolong manusia melakukan aktivitasnya dengan cepat dan akurat. Tetapi aku menyesali ketergantungan manusia yang membabi-buta pada teknologi komputer sehingga melupakan keunggulan manusia sebagai ciptaan Tuhan. Menyesali  manusia yang mau diperbodoh oleh teknologi.

Ini adalah beberapa contoh teknologi yang memperbodoh manusia saat menyanyikan nyanyian jemaat dengan tayangan LCD :
  1.  Nyanyian jemaat hanya dapat dilihat 1 atau 2 baris dalam 1 halaman power point. Untuk menghayati syair nyanyian, penyanyi harus mengetahui kata-kata yang akan dinyanyikan sebelum nyanyian sampai di bagaian tersebut. Misalnya "Tinggal sertaku; hari t'lah senja....." Penyanyi harus tahu bahwa puisi ini belum selesai, karena akan dilanjutkan dengan "G'lap makin turun,- Tuhan, tinggallah!" agar kedua baris puisi ini dapat dinyanyikan dengan utuh. Penayangan nyanyian dengan LCD tidak dapat memenuhi kebutuhan ini, karena baris kedua belum terlihat saat baris pertama dinyanyikan.
  2. "Aku perlukan Dikau tiap jam....." Kejadian di ruang operator : Mouse  habis baterai, perlu sepersekian detik bagi operator untuk beralih dari mouse ke keyboard laptop. Tidak ada yang tahu apa kelanjutan syair ini. Seolah-olah ada "keselekan massal" selama beberapa detik sebelum menyanyikan "....lam cobaan Kaulah kupegang"  Alangkah ganjilnya nyanyian jemaat ini terdengar
  3. "Aku tak takut, kar'na Kau dekat.......; susah tak pahit, duka tak berat.... Siapa penuntun yang setaraMu? Siang dan malam tinggal sertaku". Ada yang aneh. Apa kaitannya? Tapi semua menyanyikannya karena itulah yang ditayangkan LCD. Terima saja. Padahal tim multimedia "bablas copas" untuk bait 4 ini. Bukan hanya not yang di"copas", tapi juga syair baris ketiga dan keempat.
  4. Selesai bait 4 selesai, listrik padam. Pianis masih bermain. Tapi tidak ada lagi tayangan syair nyanyian. Beberapa orang sibuk membuka buku NKB yang ada di kantung bangku di depannya...sayangnya tidak menemukan karena tidak tahu lagu tersebut ada di buku Kidung Jemaat. Beberapa orang berbisik-bisik. Yang lainnya tengok kiri, tengok kanan. .Tidak nyaman sama sekali.
Teknologi terus dikembangkan untuk menolong manusia. Power point merupakan perkembangan teknologi slide yang membantu penyampaian materi. Fitur-fitur berkembang terus dan membuat penyampaian materi tidak membosankan.Semua dibuat untuk melayani manusia.

Namun apakah memang kita perlu dilayani saat menyanyikan nyanyian jemaat? Setiap orang mempunyai kemampuan dan kecepatan berbeda dalam membaca syair lagu. Artinya kebututuhan mata tiap orang berbeda dan tidak semuanya terlayani dengan tayangan LCD. Nyanyian jemaat adalah nyanyian yang dinyanyikan oleh jemaat, jadi masing-masing harus melayani dirinya sendiri agar dapat menghayati seluruh syair yang dinyanyikan. Hal-hal di atas tidak akan terjadi bila buku nyanyian dipakai lagi. Setiap orang bebas  melirik satu atau dua kalimat berikutnya kapan saja. Bebas melirik kembali syair yang barusan dinyanyikan bila merasa kurang menghayati saat menyanyikannya. Bebas menutup buku nyanyian karena sudah hafal seluruh syairnya.  Tidak lagi ada keselkan massal, kesalahan massal dan keresahan massal dalam kebaktian.

Satu  hal lagi. Ada yang menganggap penggunaan LCD yang menayangkan urutan-urutan dalam kebaktian secara detail untuk menggantikan kertas liturgi merupakan tindakan "go-green". Sama sekali tidak. Berapa banyak jejak karbon yang ditinggalkan untuk mempersiapkan tayangan dan saat menayangkan? Selain itu, bukankah kertas liturgi sesungguhnya tidak diperlukan karena liturgi tetap dapat berjalan tanpa ada kertas liturgi.
 

 
Copyright 2009 Kupikir.... Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase