Selasa, 26 Agustus 2008

Kembali ke Nusa Kambangan

Jumat dan Sabtu yang lalu aku kembali ke Nusa Kambangan. Bukan.... bukan sebagai mantan napi yang kembali menjadi napi. Aku ke sana dalam rangka bakti sosial untuk napi-napi yang tinggal di sana. Ini merupakan kunjuganku yang ketiga. Ada beberapa perubahan yang terlihat di sana dibanding kunjunganku sebelumnya.

Pertama, jumlah LP. Ketika aku mengunjungi pertama dan kedua kali, jumlah LP di Nusa Kambangan hanya ada 4 buah, yaitu LP Batu, LP Besi, LP Kembang Kuning, LP Permisan. Sejak tahun lalu, jumlah LP bertambah 1. Nama LP sebenarnya tidak aku ingat, karena LP ini lebih dikenal sebagai SMS (Super Maximum Security). Nama ini menunjukkan tingkat pengawasan yang tentu lebih tinggi dibanding LP lainnya. Ada 4 gerbang yang harus dilalui untuk memasuki LP tersebut, sedangkan LP lainnya hanya 2 gerbang. Setiap pengunjung yang akan masuk ke LP ini harus mendapatkan stempel satu kali di tangannya dan sekali lagi ketika keluar. Ada juga yang mengatakan SMS sebagai singkatan Super Mewah Sel. Meski tidak tepat susunan katanya, tapi cukup menjelaskan bahwa LP ini memang sangat mewah dibanding LP lainnya. Hanya di SMS saja dijumpai AC! Yah, memang LP ini dihuni oleh napi-napi khusus yang perlu penjagaan khusus dan pelayanan khusus, seperti Gunawan Santoso.

Kedua, kondisi jalan di Pulau Nusa Kambangan. Meskipun sama-sama beraspal, kondisi jalan saat ini sudah lebih baik. Pada bagian depan (yang aku maksudkan dengan bagian depan adalah bagian selatan pulau yang memiliki pelabuhan feri penyeberangan ke Pulau Jawa) jalan sudah dilapis ulang dengan hotmix. Perbaikan jalan masih berlangsung dan baru mencakup kira-kira setengah panjang jalan.

Ketiga, kondisi pantai Permisan. Pantai Permisan adalah pantai yang sangat indah, karena itu disebut Permisan yang merupakan akronim permai, indah, berkesan. Ada satu LP yang disebut sebagai LP Permisan, karena letakknya yang berdekatan dengan Pantai Permisan. Pantai Permisan merupakan pantai selatan Pulau Nusa Kambangan. Ombak keras Samudra Indonesia membuat batu-batu cadas di bibir pantai menjadi batu yang indah. Percikan air laut dengan kecepatan tinggi yang memukul batu cadas membuat suatu pemandangan indah berupa kabut di atas permukaan air laut. Foto di sebelah ini bukan foto yang buram, tapi memang batu cadas tampak samar-samar karena tertutup oleh kabut percikan air laut. Pantai ini dipakai oleh Kopassus untuk melakukan upacara pelantikan, tidak heran kalau di atas satu batu cadas tertancap pisau komando Kopassus dalam ukuran besar. Foto di samping memperlihatkan pisau komando yang berdampingan dengan pohon kelapa di atas cadas. Dalam kunjungan pertama dan keduaku, pantai ini dipakai oleh rombongan bakti sosial untuk acara makan siang. Ada bangunan berdinding beton dan beratap sirap yang kami pakai untuk duduk-duduk di pantai. Semuanya sekarang sudah tidak ada, karena terhapus oleh gelombang tsunami pada tahun 2006 yang lalu. Inilah perbedaannya. Bentuk pantai juga sudah berubah. Namun keindahan pantai Permisan masih tetap ada. Keindahan yang berbeda.

Rabu, 20 Agustus 2008

Gala concert Festival 15 UPH

Senin kemarin, aku berpartisipasi dalam gala concert yang merupakan salah satu rangkaian acara Festival 15 UPH. Ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan UPH dalam rangka memasuki tahun ajaran baru. Banyak partisipan dalam konser ini : 4 paduan suara, 2 orkes, 1 grup teater, 1 tim gamelan, 1 grup tari, belum lagi beberapa solis. Hasilnya memang secara keseluruhan jadi enak ditonton dan dapat dinikmati banyak kalangan. Musik yang ringan mengiringi tarian dan pantomim yang disajikan memang membuat gala concert ini enak ditonton. Ini semua karena peran art director yang memadukan seni musik, seni gerak, seni tata cahaya, seni multi-media menjadi aksi panggung yang baik. Selain itu ada Event Organizer yang bekerja keras untuk melancarkan jalannya acara.


Namun bagi LKCCO, konser kali ini terasa ringan, tanpa beban. Latihan hanya 2 bulan tanpa ketegangan, tidak diburu-buru, karena memang lagu-lagunya ringan. It Is Well, Amazing Grace, How Great Thou Art, Coming Home, People Need The Lord, bahkan Lord's Prayer- pun dibawakan dengan gaya pop. Mungkin karena itu pula, berdasarkan pengalaman tahun lalu, banyak anggota paduan suara yang mangkir. Mangkir untuk meliburkan diri dari latihan-latihan berat selama ini. Aku lebih memilih tetap ikut latihan agar tidak kehilangan semangat bernyanyi.

Terus terang, aku lebih menikmati latihan-latihan persiapan dibanding konser itu sendiri. Dalam latihan, aku bisa mendengar suara seluruh paduan suara yang dibunyikan dengan indah. Sedangkan pada saat konser, bunyi orkes yang sudah keras ditambah lagi dengan sound system dalam ruangan berkarpet, mendorong paduan suara untuk bernyanyi mengimbangi kerasnya musik pengiring. Akibatnya, suara yang keluar menjadi tidak indah lagi, cenderung berteriak-teriak. Sangat berbeda ketika uji coba di gereja kecil dengan iringan organ, ketika kami lebih memikirikan kualitas suara dibanding kuantitas suara. Ah... rasanya kangen bernyanyi acapella lagi, seperti Locus Iste, Ave Verum ...

Satu hal tentang gala concert yang bagiku menyenangkan, yaitu kami mengenakan jubah. Hal ini membuatku tidak perlu pusing memikirkan penampilan. Tidak perlu menjahit baju baru, tidak perlu memikirkan sepatu yang pantas. Karena semuanya tertutup oleh jubah. Aku hanya mengenakan T shirt, celana jeans dan sepatu kets yang membuatku nyaman berdiri lama pada bagian akhir konser. Nyaris tanpa beban. Mungkin karena rileks itulah aku mendapat kesempatan berfoto bareng Pak Anton, pelatih Lippo Karawaci Community Choir & Orchestra yang merangkap sebagai Art Director Gala Concert kali ini. Lihat senyum kami yang seperti tanpa beban. Sebetulnya yang tanpa beban itu aku, sebab aku tahu beban Pak Anton pasti berat sebagai art director.

Minggu, 27 Juli 2008

Menjelang 6 bulan.....

Hari ini 27 Juli 2008, artinya hampir 6 bulan setelah aku membuat blog WARDOGI, jumlah pengunjung mencapai 1500 lebih! Aku ingat, pada bulan-bulan pertama, pengunjungku sedikit sekali. Dalam sebulan hanya dalam hitungan 2 tangan. Terasa lambat sekali untuk mencapai angka 200. Ada kenaikan yang cukup berarti ketika di bulan ketiga aku memasukkan fitur blogroll dan technocrati.

Dibanding blog lain, tentu hal ini bukan prestasi. Tapi bagiku, ini membangkitkan semangat. Karena berarti ada yang berminat membaca tulisanku, terutama 1 bulan terakhir. Sebelum berlibur ke Vietnam, sitemeter di blogku mencatat 800-an pengunjung. Tau-tau, beberapa hari setelah aku menuliskan laporan perjalan ke Vietnam, jumlahnya meningkat drastis, dalam 1 minggu bisa bertambah sekitar 200-an pengunjung. Rupanya tulisanku tentang Vietnam banyak dilihat orang, setidaknya foto-fotonya, karena aku tahu pengunjung dari Brazil, Canada, Uzbekistan, Swedia, dan tempat-tempat lain di luar Indonesia pasti tidak memahami tulisanku.

Pengalamanku bermain di dunia maya sangat didukung oleh penyedia layanan internet spektrum luas yang dijual murah. Hal ini membuatku bebas menjelajahi dunia maya tanpa disertai rasa was-was dan penuh perhitungan. Hal yang sebelum ini kulakukan ketika penyedia layanan internet yang ada di Indonesia semuanya mengandalkan jaringan telepon, sehingga biaya pemakaian internet dihitung berdasarkan panjangnya waktu penggunaan ditambah pulsa telepon.

Bermain-main di dunia maya bagiku sangat menarik. Banyak hal baru yang dapat dipelajari di dunia ini dan proses pencarian topik yang ingin diketahui jauh lebih cepat dan hemat energi dibanding di dunia nyata. Khususnya di Tangerang, kota yang tingkat polusinya sangat tinggi karena kemacetan yang berlangsung hampir sepanjang hari. Belum lagi, jauhnya lokasi pusat-pusat informasi dari Tangerang.

Bukan hanya informasi, pertunjukan senipun bisa kunikmati dengan fasilitas internet. Banyak karya-karya seni yang bisa kusaksikan di youtube. Aku bisa menyaksikan pertunjukan balet "Swan Lake" yang terkenal itu untuk pertama kalinya di youtube. Sebelum ini, aku hanya melihat foto pertunjukan dan berita tentang penyelenggaraan pentas Swan Lake melalui berita di koran serta mendengar musik pengiringnya di kaset. Aku bisa menyaksikan festival paduan suara tingkat dunia da menyaksikan paduan suara sekaliber Phillipine Madrigal Singers juga di youtube.

Aku bukan hanya memanfaatkan internet sebagai pemuas diriku, tapi juga sebagai tempat mengaktualisasikan diriku. Ada yang bilang, umumnya pemilik blog adalah seorang narcisius. Terserahlah apa kata dunia, bagiku blogku adalah tempatku untuk menyatakan diriku. Kalau ternyata ada orang lain yang melihat blogku, biarlah dia melihat diriku seperti apa adanya. Aku tidak bermaksud memamerkan diri.

Aku memberi nama blogku WARDOGI sebagai akronim WARUNG DOKTER GIGI, karena semula aku bermaksud menuliskan hal-hal seputar kedokteran gigi dengan bahasa yang sederhana. Banyak tulisan-tulisan pertamaku yang diambil dari pengalaman sehari-hariku bersama pasien gigiku.

Tetapi di kemudian hari, ada hasrat-hasrat di dalam diriku yang ingin aku curahkan, karena itu aku mengganti judul blogku menjadi "kupikir...", tanpa mengubah alamat blogku : wardogi.blogspot.com. Setelah mengganti judul blogku, aku merasa lebih bebas menuliskan apa saja yang aku pikirkan, tanpa dibatasi oleh profesiku. Itulah sebabnya mengapa sekarang Delta Sungai Mekong, nasi goreng dan green tips ada di dalam wardogi.

Beberapa hari lagi blogku berusia 6 bulan. Kuharap aku masih tetap memiliki semangat untuk menyalurkan hasrat-hasratku. Kuharap blogku bukan hanya menjadi tempatku menyalurkan hasrat, tapi juga menjadi salah satu sumber informasi orang lain. Mimpi yang indah, mudah-mudahan tidak hanya mimpi saja.

Selasa, 27 Mei 2008

Susahnya kalau dokter gigi sakit gigi

Beberapa hari terakhir, gigi belakang kiri bawahku berulah lagi. Memang gigi yang satu ini paling susah diurus. Sejak aku masih anak-anak dia sudah berlubang dan ditambal Om John dengan amalgam. Tambalan yang sangat kuat, bertahan tanpa masalah hingga aku berusia 20-an. Saat itu Om John sepertinya baru mempunyai seperangkat alat dan bahan komposit, jadi seluruh tambalan amalgam di mulutku (meskipun tidak bermasalah) diganti dengan komposit. Kelihatan lebih bagus memang.

Masalah pertama muncul kira-kira 10 tahun yang lalu. Gigi ini terasa sakit berdenyut. Kali ini aku berkonsultasi dengan Eng Lian, yang waktu itu sedang studi spesialisasi konservasi gigi. Setelah dibongkar, daerah tanduk pulpa distal terasa sangat nyeri, sedangkan bagian mesial tidak masalah. Partial nekrosis. Menurut Eng lian, memang gejalanya seperti itu. Rasa sakitnya melebihi pulpitis. Waktu itu gigiku di-pulp-capping. Hal ini beratahan hingga kira-kira 5 tahun.

Muncullah masalah kedua. Gigi ini terasa sakit sekali, betul-betul sakit. Sakit ini akan mereda bila aku minum atau berkumur air, juga bila angin dihembuskan ke gigi ini. Kalau hal ini terjadi pada pasienku, aku pasti akan membuka tambalan gigi dan atap pulpa gigi. Hal ini pasti efektif untuk mengatasi tekanan gas yang ada di dalam pulpa yang menimbulkan rasa sakit ini. Tapi aku tidak berani melakukannya pada diriku. Ada rasa ragu, apa betul tindakan ini efektif.... bagaimana jika hasilnya malah makin sakit.

Sore itu, aku ke Bobby. Sejak di perjalanan sampai menunggu di ruang tunggu pasien (sungguh pengalaman menjemukan...), aku mengemut air sejuk terus. Bila suhu air sudah sama dengan suhu rongga mulut, air aku telan. Sampai kembung. Benar saja, yang dilakukan Bobby terhadap gigiku ini sama seperti yang biasa aku lakukan pada pasienku. Rasa sakit langsung hilang. Perawatan selanjutnya, aku lakukan sendiri. Perawatan seadanya, karena tidak mungkin aku melakukan preparasi biomekanis di gigi sendiri, apalagi gigi kiri. Hanya dengan memasukkan pasta kalsium hidroksida dan menutupnya dengan tambalan sementara. Bila tambalan sementara berkurang, ya tambal ulang. Seperti itulah, berulang-ulang dan gigiku bertahan tanpa masalah sampai beberapa bulan yang lalu.

Inilah masalah yang ketiga dan hingga kini belum terselesaikan. Beberapa bulan yang lalu, dinding bukal gigiku retak. Jadi sakit kalau dipakai mengunyah. Kali ini gigiku ditangani Debby. Bagian gigi yang retak dipotong, ternyata sampai di bawah tepi gusi. Ruang pulpa sudah tertutup, karena penggunaan kalsium hidroksida selama 5 tahun terakhir. Debby, yang spesialis konservasi gigi, menganjurkan agar gigiku dicabut saja, karena tidak memungkinkan lagi untuk direstorasi. Ketika aku minta tolong ke drg Alex untuk mencabut gigiku, dia malah balik meyakinkanku bahwa gigiku bisa direstorasi. Weleh.... sepertinya ada rasa sungkan karena pasiennya sesama dokter gigi.

Sampai sebulan yang lalu, sisa gigi yang ditolak oleh 2 spesialis itu tidak menimbulkan masalah, msekipun dalam keadaan terbuka. Baru beberapa hari belakangan, gigiku mulai mengganggu lagi. Dugaanku periodontitis, karena beberapa bulan oklusi tidak normal. Ada rasa tidak nyaman di sekitar gigi ini, tapi enak kalau dihisap-hisap. Kalau malam, rasa tidak nyaman bertambah. Sudah waktunya dicabut, tapi aku tidak bisa mencabutnya sendiri, selain rasa tidak tega waktu menyuntik, juga kesulitan mengatur posisi mancabut karena gigi ada di sebelah kiri.

Susahnya kalau dokter gigi sakit gigi.

Kamis, 15 Mei 2008

10 hari terkapar

Gara-gara jilatan si Aedes, 10 hari aku terkapar. Jangankan menulis di blog, untuk naik ke ruang atas tempat kompi bertahta saja, aku tak sanggup. Sekali-sekali saja, kalau ada sedikit tenaga, kucatat pikiran-pikiranku di hape.


5 Mei pk 18.00
Hari ini aku coba membiasakan diri mencatat di hp dulu ide-ide yang ada di kepala supaya tidak hilang begitu saja seperti minggu-minggu lalalu waktu kompi di rumah rusak dan internet di rumah sakit ngadat terus. Pagi ini sedikit tidak enak badan dikit, mau nongkorong di bawah saja. Eh, kok keterusan sakitnya sampai sore. Warung tutup saja dulu.

7 Mei pk 20.00
Wah, kok jadi tidak karuan! Tidak enak badan yang biasanya cuma 1 haru, sekarang sudah masuk hari ketiga. Sudah periksa darah, trombosit normal, jadi tidak ada ada tanda-tanda DHF. Mungkin tifus. Lusa, kalau masih demam, cek Salmonella. Ini kata dr Suga. Yang rendah adalah eritrosit dan hemoglobin. Jadi disuruh minum vitamin penambah darah. Besok deh belinya. Ya ampuuunn, kurang darah saja kayak gini menderitanya!

8 Mei pk 10.30
Sakit hati. Tadi jam 9.45 anugerah telepon, "Kenapa belom datang?" Terdengar di latar belakang suara Ny ILS, "Kok ga bilang-bilang".
"Aku sudah sms Ny ILS"
"Ha..ha...baru liat."
Enak betul ngomongnya! Orang lagi sakit begini disuruh mendengar kata-kata seperti itu, rasanya langsung menikam jantung! Mulutnya memang berbisa sekali, sudah lama aku berhati-hati kalau berbicara dengannya.

8 Mei pk 12.30
Duh, kalau anemia seperti ini dan perlu waktu 1 bulan minum sangobion dengan penderitaan seperti ini terus, sepertinya kegiatan mencatat ide di hape betul-betul harus dilakukan. Ceritaku tentang penyakit ini saja mungkin bisa jadi beberapa posting nih...

8 Mei pk 22.00
Malam aku tidak tahan lagi dengan rasa sakit di kepalaku. tanpa konsultasi lagi dengan dr Suga, meski dengan sedikit rasa ragu, aku ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan hemoglobinku sudah di atas normal (haaa...? cuma 1 sangobion!), trombosit 139 ribu, positif salmonella tyhpoid dan parathyboid beberapa tipe dan infeksi dengue. Harus opname. Sering aku beranggapan, aku tidak takut kuman karena punya daya tahan tubuh bagus hasil tempaan sejak kecil : jarang minum obat, apalagi antibiotika, biasa telanjang dada waktu balita, biasa main hujan dan panas waktu kecil, tak pernah bolos pelajaran olah raga, hidup teratur. Tidak takutlah pada kuman. Aku lebih takut polusi daripada kuman. Eh.... ternyata tak kuat juga aku!
Bisa terkapar juga di rumah sakit. Mudah-mudahan tidak lama-lama lah di sini....

9 Mei pk 8.30
Semalam tidak bisa tidur. Badan segar trus, sampai tahu 4X infus diganti. Gara-gara tadi malam disuntik neuroboran dan vit C. Jam 7 pagi waktu bangun pagi serasa tidak habis tidur. Setelah sarapan bubur tidak enak dan mandi, Okta datang. Katanya disuruh dokter Alex menungguiku sampai beliau datang. Meski kukatakan tidak perlu, dia tetap bertahan. Yang menyebalkan, dia berkeluhkesah tentang keluarganya, dari nenek sampai keponakannya. Duhhh... Okta, aku mau istirahat!

9 Mei pk 14.30
Orang-orang anugerah datang, setelah jam besuk lewat, termasuk Ny ILS. Rasa kesal belum hilang. Mereka banyak cerita lucu, tapi aku tak satu kalipun meladeni omongan Ny ILS. Kalaupun ada yang perlu ditanggapi, kutanggapi dengan menoleh ke orang lain. Kelihatan sekali dia sedang menjilat-jilat mukaku. Tentang kejadian hari Rabu kemarin, katanya "Tapi ga ada pasien yang marah kok karena disuruh pulang" Ya ealah.... pasien anugerah kan pasien penuh kepasrahan semua. "5 orang besoknya datang lagi." Bukan itu yang penting.... tapi berapa pasien yang ditolak?

9 Mei pk 15.00
Trombosit turun lagi menjadi 88 ribu, berarti positif DHF. Dokter Yudis bilang, tifusnya ringan. Rupanya dia tidak anti obat tradisional. Boleh-boleh saja mengkonsumsi Pien Tze Hwang, ankak, jambu biji. Malah dia memberi resep mengolah ankak, yaitu dengan mentimnya selama 1 jam. Lebih enak kalau dimasak pakai ayam. Ya ealah....


9 Mei pk 18.00
Hari ini memang tidak ada sakit kepala seperti kemarin. Penyebabnya rupanya bantal ketinggian. Hari ini bantal tidak dipakai lagi. Tapi kepala rasanya berputar-putar, dan berefek pada rasa mual. Tidak biasa-biasanya aku menyisakan makanan. Makanan yang tidak enak saja tetap kumakan. Kalau sampai makanan tidak kumakan, berarti sudah kebangetan, misalnya bubur tawar tanpa lauk, makanan sudah busuk atau kotor. Tapi hari ini betul-betul perutku mual, jadi tidak semua makanan yang diberikan rumah sakit bisa kuhabiskan.

10 Mei pk 8.00
Tidur semalam betul-betul tidak nyenyak. Mimpi main internet.

p10 Mei pk 18.00 Trombosit 58 ribu. Ada tab let bunga siantan buatan Pusat Studi Obat Bahan Alam UI dari Bu Joyce. Satu lagi support therapy untuk menaikkan trombosit
Ya ampunnn... Ny ILS datang lagi! Alasan menemani Pak Husen? Ada istri! Betul-betul cari perhatian dia! Tak mempan deh. aku sudah tahu sifatmu! Selain mereka, ada 3 kloter Karet! Waduh, kaya celeb neh. Tapi celeb kurang ngetop, jadi info terbaru belum tersebar. Sampai malam ini, mereka taunya aku tifus, bukan DHF.

10 Mei pk 19.30
LKCCO concert. Tidak cuma tidak jadi ikut nyanyi, nonton juga tidak bisa! Rencana sebelumnya, mau nonton dengan balerinaku. Hari ini juga ada launching LKCCO children choir. Begini nasib jadi.....

10 Mei pk 21.30
Andrea Bocelli di Metro. Ini reminder. Tapi karena ketiduran, ya tidak jadi nonton ....

11 Mei pk 6.00
Semalam untuk pertama kali sejak demam, tidur enak banget. Setelah jam besuk berakhir, dengan maksud 1 jam kemudian mau minum tablet siantan. Rasanya baru beberapa menit tidur, tau-tau sudah jam 1.30! Wah... suster-suster shift sore tidak kebagian kue deh! Setelah minum tablet, tidur lagi.Jam 5 pagi sudah segar, enak banget bangunnya. cuma pusing tidak hilang, karena trombosit rendah.

11 Mei pk 9.45
Dokter Yudis hari ini tumben visit pagi, pakai T Shir t lagi! Oops... sekarang kan minggu. Trombosit sudah tidak turunlagi, tadi pagi sudah 53ribu. Besok sudah boleh pulang. Satu lagi bukti suster ngaco : boleh ngeden! Ya am;pun, suss... yang takhyul kok dikasih tahu ke pasien.

11 Mei pk 10.00
Kemarin ada suster yang bilang kalau lagi DHF tidak boleh sikat gigi, ngeden, nupil, jalan, karena bisa terjadi perdarahan. Untuk yang lain, aku nurut saja. Tapi kalau tidak boleh sikat gigi... AKU LEBIH TAHU. Gusi sehat tidak bisa berdarah walaupun disikat. Jadi kalau DHF, justru harus disikat supaya gusi tidak meradang dan berdarah.
Tadi padi dokter Yudis tanya soal BABku yang tertahan sejak kemarin. Aku bilang aku tidak berani mencoba, karena tidak boleh ngeden. "Ah, siapa bilang... boleh kok." Didukung lagi dengan kepastian trombositku sudah mulai naik, aku abaikan semua mitos ciptaan suster kemarin. Kencing tidak mau pakai pispot di tempat tidur lagi dan mulai mencoba lagi untuk ngeden, meski beberapa kali tanpa hasil. Kalau ngupil.... dari kemarin juga aku lakukan.

11 Mei pk 15.00
Siang ini banyak yang datang. Pertama kali datang balerinaku, yang sejak kemarin memang berencana di sini selama guru pmj. Terus guru sekolah minggu dan pemuda karet. Lalu dokter Sondari. Belum pulang, datang Daisy, disusul Henny. Sekitar waktu besuk habis, Yunus datang. Karena menunggu satu lagi teman SMAK I yang paling jauh rumahnya : Otek, ngobrol teruslah... Kunjungan berakhir lewat dari pk. 14.30. Untung kondisi sudah lumayan segar, tidak harus dalam posisi tidur. Seharian ini nyaris backrest dalam posisi tegak terus.

11 Mei pk 16.30
Legaaaa banget! Aku sukses berjuang di kloset dengan bantuan 2 tablet dulcolax, yang pasti berjuang berat di perut melewati kanal yang sangat panjang dan keras. Diawali 2 jam sebelumnya oleh angin yang lebih dulu sampai ke pintu keluar dan menimbulkan bau seperti obat keriting rambut. Tidak puas dengan 1 kali pemboman kloset, 1 jam kemudian sisa-sisa peluru dihabiskan di tempat yang sama. Dokter Yudis bilang, kalau belum menanam berlian, belum boleh pulang.

12 Mei pk 6.30
Hari ini pulang . Jam 6.30 sudah selesai mandi, sekali lagi... MANDI, bukan dilaplagi! Sekalian keramas rambut yang bau banget dan bikin malu kalau dicium tamu. Trombosit pagi ini 94 ribu. Jam 9 sudah siap pulang, barang-barang semua sudah masuk tas. Tinggal tunggu dijemput guru jam 2, sambil menikmati fasilitas kamar, nonton, makan, bermalas-malasan. Bosan, main ke polis gigi, buka email yang sudah 1 minggu tidak dilihat. Balik ke kamar lagi, nonton Thomas Cup dan Uber Cup. Sebetulnya belum segar betul, masih pusing kalau duduk atau berdiri kelamaan.

Jumat, 02 Mei 2008

REPORTASE SIANG

Minggu, 27 April 2008 yang lalu, kawasan Gading Serpong dibuat heboh.
Penyebabnya adalah Bu Christiani, guru biologi SMAK I berkenan mengunjungi
workshop Lim Rusli, alias Otek, murid kesayangannya dulu. Bagaimana tidak
disayang, rata-rata nilai biologinya selama 3 tahun adalah 16 ! Sebetulnya 10,
karena sayangnya, diberi bonus 60%.

Sejak Sabtu, begitu mendapat kabar tentang rencana kunjungan Sang Guru, Otek
menjadi salah tingkah. Rupanya dia kuatir bonus yang diterimanya dulu akan
ditarik kembali kalau penyambutan tidak sempurna. Hari Minggu, dihubunginya
beberapa temannya untuk mendampinginya. Karena terlalu mepet, hanya 2 orang yang
menyanggupi yaitu Yunus dan reporter anda.

Minggu siang, di food court Sumarecon Mal Serpong tepatnya Bakmi Gang Kelinci
terjadi "temu kangen" kecil-kecilan. Ibu Christiani datang bersama Pak Tum dan
"Si Joni". "Si Joni", yang nama sebenarnya tidak diingat oleh reporter yang
sudah mulai pikun ini, adalah teman Bu Christiani yang pernah kos di rumahnya
dan mempunyai hobby yang sama, yaitu tanaman.

Makan siang, yang banyak diselingi acara kampanye biopori oleh reporter
(hehehe...), ternyata memunculkan ide tentang tempat reuni akbar gang84. Yunus
rupanya terinspirasi oleh cerita Pak Tum tentang reuni angkatan 79 yang diadakan
di aula SMAK I. Menurut Yunus, ide mengadakan reuni di aula SMAK I menarik,
karena mengurangi biaya, setidaknya biaya booking, dan tinggal menyiapkan
katering. Bagi reporter, ide ini baik, karena acara reuni dengan mengambil
tempat di sekolah akan mengembalikan suasana 25 tahun yang lalu.

Setelah makan siang, acara dilanjutkan di workshop Otek yang letaknya tidak jauh
dari Mal. Wajah Bu Christiani keliatan sumringah ketika berada di workshop. Satu
persatu tanaman diperhatikan olehnya, bahkan ulat yang sedang bersantap siang di
balik daunpun dilihatnya. 2 jam di workshop yang panas terik itu tampaknya tidak
membuatnya lelah. Pukul 15.30 rombongan meninggalkan workshop. Bu Christiani
mendapat oleh-oleh 2 buah tanaman dari mantan murid kesayangannya. Kalau tidak
salah, salah satunya akan dikembangbiakkan dengan membuat kultur jaringan,
bidang yang memang didalaminya hingga saat ini.

Nilai 16 itu tentunya tidak jadi ditarik, karena terlihat jelas Bu Christiani
bangga dengan mantan muridnya itu.

Reporter anda,
Melinda
(seperti yang diposting ke milis smak1y84gang 29 April 2008)

Wade in the water

Wade in the water
Wade in the water
Wade in the water, children
God's gonna trouble the water

I look over Jordan and what did I see?
God's gonna trouble the water
A band of angels was comin' for me
God's gonna trouble the water

When I get to heaven how happy I'll be
God's gonna trouble the water
My soul there forever, my spirit set free
God's gonna trouble the water

Lagu ini mengingatkanku pada Prof. Andre de Quadros yang kelasnya di 2nd dan 3rd Bandung Sympsium on Church choral Music kuikuti. Kelas pertamanya yang kuikuti adalah tentang musik African American Spiritual dan lagu Wade in the water merupakan lagu yang pertamakali dianalisanya. Sangat menarik dan mendalam bahasannya. Mulai dari latar belakang muncul lagu-lagu spiritual, cara melafalkan kata-kata inggris dengan lafal African American hingga cara menyaknyikannya. Benar-benar kelas yang sangat menarik.



Di Youtube bisa dijumpai beraneka anransemen dan bermacan gaya menyanyikan lagu ini. Hingga yang sudah diupload hingga hari ini, tidak ada satupun yang sama. Mulai dari Rochester A Capella Chorus, RHS Choral, Voice of Unity Youth Choir sampai Judy Henske dan Take6 dan masih banyak lagi, semuanya berbeda.
Tanggal 10 Mei ini LKCCO rencananya akan mengadakan konser lagi dan lagu ini adalah satu di antaranya. Dengan aransemen yang berbeda juga, tentunya. Sekali lagi aku tidak ikut. Banyak latihan yang tidak aku ikuti akhir-akhir ini, baik latihan bersama maupun kelas-kelas vocal building. Minggu-minggu terakhir ini aku..bukan sibuk...sedang dalam proses aklimatisasi <(stilahku sendiri khusus hanya untuk kasusku saja). Kebetulan, waktunya beberapa kali bentrok dengan latihan utama LKCCO. Sorry, Pak Anton.
 
Copyright 2009 Kupikir.... Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase