Aku punya 2 "bisul" selama 3 bulan ini. Bisul yang bikin kulit di sekitarnya tegang, kadang-kadang menyakitkan. Tanggal 3 Januari yang lalu, bisul pertama sudah pecah, disusul yang kedua 1 minggu kemudian, Sabtu kemarin. Lega rasanya.
Terakhir terlibat di kepanitiaan rasanya sudah lamaaaaaa.... sekali. Selama ini lebih banyak menjadi penonton dan penikmat saja. Entah kenapa, bisa bersamaan, tau-tau kok aku ditunjuk jadi panitia reuni SMA sekaligus juga panitia kebersamaan keluarga pendeta. Herannya lagi, dua-duanya "kerjaan tukang", yang pertama jadi sekretaris, yang kedua jadi seksi publikasi dan anggota seksi dokumentasi. "Kerjaan tukang"?
Ternyata jadi sekretaris itu bukan cuma mencatat risalah rapat atau membuat surat, tapi juga bikin denah lokasi, mencari alamat pendeta dan majelis jemaat yang akan dikirimi undangan , fotokopi surat, melipat, menyisipkan pamflet, memasukkan ke amplop, mengelim, menempelkan alamat surat, mengatur distribusinya. Jumlah surat 400-an eksemplar. Gemporlah fisik awak! Terakhir aku jadi sekretaris duluuuuu sekali, 20 tahun yang lalu, itupun cuma sekretaris komisi pemuda jemaat, yang ruang lingkupnya sangat kecil. Tidak ada pengalaman sama sekali, jadi rangkaian kerja di atas baru selesai dalam 1 minggu!
Belum selesai.... karana setelah terkirim, aku juga harus menjadi menerima pendaftaran juga karena tidak ada seksi pendaftaran. Belum lagi mengirim sms untuk minta konfirmasi karena setelah 1 minggu baru 2 orang yang merespon surat undangan.... membalas sms, mencatat di daftar calon peserta, bahkan sampai 1 hari sebelum acara, masih ada yang baru mendaftar, membatalkan kehadiran.... Betul-betul pekerjaan tukang! Karena itu aku sama sekali tidak mau terlibat dalam persiapan acara, biarkan sie acara yang sibuk menyusun acara dan menyiapkan perlengkapan.
Seksi Publikasi dan anggota seksi dokumentasi panitia reuni... kerjaan tukang?
Yang pertama sebetulnya bukan, karena aku menyukainya. Tidak terlalu banyak menguras tenaga. Ini sebetulnya tugas utamaku sejak bulan agustus. Tapi ketika ada pengunduran diri beberapa orang, aku dipaksa masuk ke seksi dokumentasi. Beda dengan seksi dokumentasi umumnya (entah ini salah istilah atau umumnya yang salah istilah, kerja seksi ini tidak ada hubungannya dengan dokumentasi pelaksanaan acara. Yang dilakukan seksi ini adalah pengumpulan data alumni. Ini artinya harus mengontak, mencari teman-teman yang belum jelas rimbanya. Memang, tinggal menyelesaikan sedikit lagi, tapi waktunya juga tinggal sedikit. Tidak seluruh data alumni terkumpul, karena ada beberapa orang yang memang tidak meninggalkan jejak di manapun sehingga tidak terlacak.
Setelah itu aku juga dilibatkan dalam memeriksa pembuatan buku yang berisi data alumni.... lumayan bikin mata jereng lah! Jangan heran kalau setelah itu aku minta cuti dulu 10 hari.... menyepi, mengolesi bisul dengan salep supaya tidak terlalu tegang dan sakit.
Tanggal 3 Januari, bisul pertama pecah.... ketegangan sudah berkurang dan tampaknya bisul kedua juga mulai mengecil sedikit-sedikit, jadi tidak terlalu terasa menyakitkan. Pecahnya bisul kedua pada tanggal 10 kemarin rasanya betul-betul membuat lega.... selesai juga! Bisul-bisul itu membuatku tidak punya waktu untuk menulis di blog. Selama 3 bulan, aku hanya sempat 3 kali membuka blog-ku dan selalu terheran-heran.... tanpa ada artikel baru, ternyata pengunjung blog-ku naik pesat...
Bisul-bisul itu juga membuatku tidak sempat membaca email dari milis greenlifestyle dan indonesia choral lovers..... juga tidak mengijinkanku untuk terlibat dalam konser Asian Culture....(untungnya masih sempat ikut nyanyi di pernikahan Pak Anton!). Masih banyak hal-hal menarik yang tidak sempat kulakukan gara-gara bisul-bisul itu...
eh.... meskipun ada bisul, aku sempet belajar diving juga lho di tempatnya Agung. Meski hanya teori (udah lulus nih....) dan 1 kali praktek di kolam renang. Dunia baru yang menggoda......
Senin, 12 Januari 2009
Senin, 06 Oktober 2008
Libur Lebaran
Satu minggu berlibur dari rutinitas.... nikmatnya
Bangun siang
Tidak usah mandi buru-buru
Jadi penguasa dapur
Buat dua Lubang Resapan Biopori baru
Mandi keringat tanpa rasa sungkan
karena tidak bertemu siapa-siapa
Tidak perlu lihat mulut pasien
Cuti internet
Bangun siang
Tidak usah mandi buru-buru
Jadi penguasa dapur
Buat dua Lubang Resapan Biopori baru
Mandi keringat tanpa rasa sungkan
karena tidak bertemu siapa-siapa
Tidak perlu lihat mulut pasien
Cuti internet
Sabtu, 06 September 2008
Gudang
Senin yang lalu aku bongkar gudang di Satria. Rumah mau dikosongkan agar dapat digunakan orang lain. Banyak barang yang harus dikeluarkan. Barang-barang yang disimpan sejak 30an tahun yang lalu.
Kerja 3 jam ternyata sudah banyak menguras tenaga dan keringat. Tidak hanya itu, semua reaksi alergi muncul. Mulai dari bersin, mata berair sampai gatal-gatal di sekujur tubuh. Penuh debu! Itupun ternyata tidak membuat gudang kosong. Masih banyak barang yang belum dikeluarkan.
Hal yang menarik adalah koleksi pertukangan Papa. Semua tersimpan dengan rapi. Mulai dari alat-alat yang disusun di papan yang dibuatnya sendiri sampai sekrup, baut, paku berbagai ukuran yang sudah dikelompokkan dalam kotak-kotak tersendiri. Belum lagi sekring, starter lampu neon, kawat berbagai macam ukuran, komponen-komponen kecil alat listrik yang semuanya tersimpan dalam kotak yang tersusun sistematis. Semuanya dalam kondisi bagus dan belum berkarat karena tersimpan dalam kotak tertutup, kecuali alat-alat pertukangan di papan terbuka. Koleksi seorang penggemar elektronika yang tidak dapat diwariskan karena tidak ada anak mantunya yang mempunyai hobby yang sama dengan Papa.
Ketika membongkar lemari inilah, aku baru mengerti mengapa dulu Papa membuat gudang ini. Gudang yang besar, jauh lebih besar daripada kamar tidurku saat ini. Gudang yang penuh dengan lemari dan rak yang dibuat dengan rapi, sehingga meski terisi penuh tidak menimbulkan kesan penuh dan berantakan. Pasti Papa membuatnya untuk mempermudah pencarian barang-barangnya yang bagi Papa sangat berarti. Sifat Papa yang mengutamakan kerapihan itulah yang menyebabkan Papa mendisain gudang sejenis ini. Saat itu gudang bukan tempat menyimpan barang bekas, tapi barang-barang bermanfaat yang selalu terpakai. Sayangnya, ketika Papa tidak ada lagi, barang-barang itu menjadi tidak bermanfaat lagi. Gudang menjadi tempat barang bekas, kemudian berubah fungsi menjadi tempat barang "dibuang sayang". Tapi, hari Senin yang lalu akhirnya nasib barang-barang itu berubah menjadi "loakan", demi kosongnya rumah.
Kerja 3 jam ternyata sudah banyak menguras tenaga dan keringat. Tidak hanya itu, semua reaksi alergi muncul. Mulai dari bersin, mata berair sampai gatal-gatal di sekujur tubuh. Penuh debu! Itupun ternyata tidak membuat gudang kosong. Masih banyak barang yang belum dikeluarkan.
Hal yang menarik adalah koleksi pertukangan Papa. Semua tersimpan dengan rapi. Mulai dari alat-alat yang disusun di papan yang dibuatnya sendiri sampai sekrup, baut, paku berbagai ukuran yang sudah dikelompokkan dalam kotak-kotak tersendiri. Belum lagi sekring, starter lampu neon, kawat berbagai macam ukuran, komponen-komponen kecil alat listrik yang semuanya tersimpan dalam kotak yang tersusun sistematis. Semuanya dalam kondisi bagus dan belum berkarat karena tersimpan dalam kotak tertutup, kecuali alat-alat pertukangan di papan terbuka. Koleksi seorang penggemar elektronika yang tidak dapat diwariskan karena tidak ada anak mantunya yang mempunyai hobby yang sama dengan Papa.
Ketika membongkar lemari inilah, aku baru mengerti mengapa dulu Papa membuat gudang ini. Gudang yang besar, jauh lebih besar daripada kamar tidurku saat ini. Gudang yang penuh dengan lemari dan rak yang dibuat dengan rapi, sehingga meski terisi penuh tidak menimbulkan kesan penuh dan berantakan. Pasti Papa membuatnya untuk mempermudah pencarian barang-barangnya yang bagi Papa sangat berarti. Sifat Papa yang mengutamakan kerapihan itulah yang menyebabkan Papa mendisain gudang sejenis ini. Saat itu gudang bukan tempat menyimpan barang bekas, tapi barang-barang bermanfaat yang selalu terpakai. Sayangnya, ketika Papa tidak ada lagi, barang-barang itu menjadi tidak bermanfaat lagi. Gudang menjadi tempat barang bekas, kemudian berubah fungsi menjadi tempat barang "dibuang sayang". Tapi, hari Senin yang lalu akhirnya nasib barang-barang itu berubah menjadi "loakan", demi kosongnya rumah.
Selasa, 26 Agustus 2008
Kembali ke Nusa Kambangan
Jumat dan Sabtu yang lalu aku kembali ke Nusa Kambangan. Bukan.... bukan sebagai mantan napi yang kembali menjadi napi. Aku ke sana dalam rangka bakti sosial untuk napi-napi yang tinggal di sana. Ini merupakan kunjuganku yang ketiga. Ada beberapa perubahan yang terlihat di sana dibanding kunjunganku sebelumnya.
Pertama, jumlah LP. Ketika aku mengunjungi pertama dan kedua kali, jumlah LP di Nusa Kambangan hanya ada 4 buah, yaitu LP Batu, LP Besi, LP Kembang Kuning, LP Permisan. Sejak tahun lalu, jumlah LP bertambah 1. Nama LP sebenarnya tidak aku ingat, karena LP ini lebih dikenal sebagai SMS (Super Maximum Security). Nama ini menunjukkan tingkat pengawasan yang tentu lebih tinggi dibanding LP lainnya. Ada 4 gerbang yang harus dilalui untuk memasuki LP tersebut, sedangkan LP lainnya hanya 2 gerbang. Setiap pengunjung yang akan masuk ke LP ini harus mendapatkan stempel satu kali di tangannya dan sekali lagi ketika keluar. Ada juga yang mengatakan SMS sebagai singkatan Super Mewah Sel. Meski tidak tepat susunan katanya, tapi cukup menjelaskan bahwa LP ini memang sangat mewah dibanding LP lainnya. Hanya di SMS saja dijumpai AC! Yah, memang LP ini dihuni oleh napi-napi khusus yang perlu penjagaan khusus dan pelayanan khusus, seperti Gunawan Santoso.
Kedua, kondisi jalan di Pulau Nusa Kambangan. Meskipun sama-sama beraspal, kondisi jalan saat ini sudah lebih baik. Pada bagian depan (yang aku maksudkan dengan bagian depan adalah bagian selatan pulau yang memiliki pelabuhan feri penyeberangan ke Pulau Jawa) jalan sudah dilapis ulang dengan hotmix. Perbaikan jalan masih berlangsung dan baru mencakup kira-kira setengah panjang jalan.
Ketiga, kondisi pantai Permisan. Pantai Permisan adalah pantai yang sangat indah, karena itu disebut Permisan yang merupakan akronim permai, indah, berkesan. Ada satu LP yang disebut sebagai LP Permisan, karena letakknya yang berdekatan dengan Pantai Permisan. Pantai Permisan merupakan pantai selatan Pulau Nusa Kambangan. Ombak keras Samudra Indonesia membuat batu-batu cadas di bibir pantai menjadi batu yang indah. Percikan air laut dengan kecepatan tinggi yang memukul batu cadas membuat suatu pemandangan indah berupa kabut di atas
permukaan air laut. Foto di sebelah ini bukan foto yang buram, tapi memang batu cadas tampak samar-samar karena tertutup oleh kabut percikan air laut. Pantai ini dipakai oleh Kopassus untuk melakukan upacara pelantikan, tidak heran kalau di atas satu batu cadas tertancap pisau komando Kopassus dalam ukuran besar. Foto di samping memperlihatkan pisau komando yang berdampingan dengan pohon kelapa di atas cadas. Dalam kunjungan pertama dan keduaku, pantai ini dipakai oleh rombongan bakti sosial untuk acara makan siang. Ada bangunan berdinding beton dan beratap sirap yang kami pakai untuk duduk-duduk di pantai. Semuanya sekarang sudah tidak ada, karena terhapus oleh gelombang tsunami pada tahun 2006 yang lalu. Inilah perbedaannya. Bentuk pantai juga sudah berubah. Namun keindahan pantai Permisan masih tetap ada. Keindahan yang berbeda.
Pertama, jumlah LP. Ketika aku mengunjungi pertama dan kedua kali, jumlah LP di Nusa Kambangan hanya ada 4 buah, yaitu LP Batu, LP Besi, LP Kembang Kuning, LP Permisan. Sejak tahun lalu, jumlah LP bertambah 1. Nama LP sebenarnya tidak aku ingat, karena LP ini lebih dikenal sebagai SMS (Super Maximum Security). Nama ini menunjukkan tingkat pengawasan yang tentu lebih tinggi dibanding LP lainnya. Ada 4 gerbang yang harus dilalui untuk memasuki LP tersebut, sedangkan LP lainnya hanya 2 gerbang. Setiap pengunjung yang akan masuk ke LP ini harus mendapatkan stempel satu kali di tangannya dan sekali lagi ketika keluar. Ada juga yang mengatakan SMS sebagai singkatan Super Mewah Sel. Meski tidak tepat susunan katanya, tapi cukup menjelaskan bahwa LP ini memang sangat mewah dibanding LP lainnya. Hanya di SMS saja dijumpai AC! Yah, memang LP ini dihuni oleh napi-napi khusus yang perlu penjagaan khusus dan pelayanan khusus, seperti Gunawan Santoso.
Kedua, kondisi jalan di Pulau Nusa Kambangan. Meskipun sama-sama beraspal, kondisi jalan saat ini sudah lebih baik. Pada bagian depan (yang aku maksudkan dengan bagian depan adalah bagian selatan pulau yang memiliki pelabuhan feri penyeberangan ke Pulau Jawa) jalan sudah dilapis ulang dengan hotmix. Perbaikan jalan masih berlangsung dan baru mencakup kira-kira setengah panjang jalan.
Rabu, 20 Agustus 2008
Gala concert Festival 15 UPH
Senin kemarin, aku berpartisipasi dalam gala concert yang merupakan salah satu rangkaian acara Festival 15 UPH. Ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan UPH dalam rangka memasuki tahun ajaran baru. Banyak partisipan dalam konser ini : 4 paduan suara, 2 orkes, 1 grup teater, 1 tim gamelan, 1 grup tari, belum lagi beberapa solis. Hasilnya memang secara keseluruhan jadi enak ditonton dan dapat dinikmati banyak kalangan. Musik yang ringan mengiringi tarian dan pantomim yang disajikan memang membuat gala concert ini enak ditonton. Ini semua karena peran art director yang memadukan seni musik, seni gerak, seni tata cahaya, seni multi-media menjadi aksi panggung yang baik. Selain itu ada Event Organizer yang bekerja keras untuk melancarkan jalannya acara.
Namun bagi LKCCO, konser kali ini terasa ringan, tanpa beban. Latihan hanya 2 bulan tanpa ketegangan, tidak diburu-buru, karena memang lagu-lagunya ringan. It Is Well, Amazing Grace, How Great Thou Art, Coming Home, People Need The Lord, bahkan Lord's Prayer- pun dibawakan dengan gaya pop. Mungkin karena itu pula, berdasarkan pengalaman tahun lalu, banyak anggota paduan suara yang mangkir. Mangkir untuk meliburkan diri dari latihan-latihan berat selama ini. Aku lebih memilih tetap ikut latihan agar tidak kehilangan semangat bernyanyi.
Terus terang, aku lebih menikmati latihan-latihan persiapan dibanding konser itu sendiri. Dalam latihan, aku bisa mendengar suara seluruh paduan suara yang dibunyikan dengan indah. Sedangkan pada saat konser, bunyi orkes yang sudah keras ditambah lagi dengan sound system dalam ruangan berkarpet, mendorong paduan suara untuk bernyanyi mengimbangi kerasnya musik pengiring. Akibatnya, suara yang keluar menjadi tidak indah lagi, cenderung berteriak-teriak. Sangat berbeda ketika uji coba di gereja kecil dengan iringan organ, ketika kami lebih memikirikan kualitas suara dibanding kuantitas suara. Ah... rasanya kangen bernyanyi acapella lagi, seperti Locus Iste, Ave Verum ...
Satu hal tentang gala concert yang bagiku menyenangkan, yaitu kami mengenakan jubah. Hal ini membuatku tidak perlu pusing memikirkan penampilan. Tidak perlu menjahit baju baru, tidak perlu memikirkan sepatu yang pantas. Karena semuanya tertutup oleh jubah. Aku hanya mengenakan T shirt, celana jeans dan sepatu kets yang membuatku nyaman berdiri lama pada bagian akhir konser. Nyaris tanpa beban. Mungkin karena rileks itulah aku mendapat kesempatan berfoto bareng Pak Anton, pelatih Lippo Karawaci Community Choir & Orchestra yang merangkap sebagai Art Director Gala Concert kali ini. Lihat senyum kami yang seperti tanpa beban. Sebetulnya yang tanpa beban itu aku, sebab aku tahu beban Pak Anton pasti berat sebagai art director.
Namun bagi LKCCO, konser kali ini terasa ringan, tanpa beban. Latihan hanya 2 bulan tanpa ketegangan, tidak diburu-buru, karena memang lagu-lagunya ringan. It Is Well, Amazing Grace, How Great Thou Art, Coming Home, People Need The Lord, bahkan Lord's Prayer- pun dibawakan dengan gaya pop. Mungkin karena itu pula, berdasarkan pengalaman tahun lalu, banyak anggota paduan suara yang mangkir. Mangkir untuk meliburkan diri dari latihan-latihan berat selama ini. Aku lebih memilih tetap ikut latihan agar tidak kehilangan semangat bernyanyi.
Terus terang, aku lebih menikmati latihan-latihan persiapan dibanding konser itu sendiri. Dalam latihan, aku bisa mendengar suara seluruh paduan suara yang dibunyikan dengan indah. Sedangkan pada saat konser, bunyi orkes yang sudah keras ditambah lagi dengan sound system dalam ruangan berkarpet, mendorong paduan suara untuk bernyanyi mengimbangi kerasnya musik pengiring. Akibatnya, suara yang keluar menjadi tidak indah lagi, cenderung berteriak-teriak. Sangat berbeda ketika uji coba di gereja kecil dengan iringan organ, ketika kami lebih memikirikan kualitas suara dibanding kuantitas suara. Ah... rasanya kangen bernyanyi acapella lagi, seperti Locus Iste, Ave Verum ...
Minggu, 27 Juli 2008
Menjelang 6 bulan.....
Hari ini 27 Juli 2008, artinya hampir 6 bulan setelah aku membuat blog WARDOGI, jumlah pengunjung mencapai 1500 lebih! Aku ingat, pada bulan-bulan pertama, pengunjungku sedikit sekali. Dalam sebulan hanya dalam hitungan 2 tangan. Terasa lambat sekali untuk mencapai angka 200. Ada kenaikan yang cukup berarti ketika di bulan ketiga aku memasukkan fitur blogroll dan technocrati.
Dibanding blog lain, tentu hal ini bukan prestasi. Tapi bagiku, ini membangkitkan semangat. Karena berarti ada yang berminat membaca tulisanku, terutama 1 bulan terakhir. Sebelum berlibur ke Vietnam, sitemeter di blogku mencatat 800-an pengunjung. Tau-tau, beberapa hari setelah aku menuliskan laporan perjalan ke Vietnam, jumlahnya meningkat drastis, dalam 1 minggu bisa bertambah sekitar 200-an pengunjung. Rupanya tulisanku tentang Vietnam banyak dilihat orang, setidaknya foto-fotonya, karena aku tahu pengunjung dari Brazil, Canada, Uzbekistan, Swedia, dan tempat-tempat lain di luar Indonesia pasti tidak memahami tulisanku.
Pengalamanku bermain di dunia maya sangat didukung oleh penyedia layanan internet spektrum luas yang dijual murah. Hal ini membuatku bebas menjelajahi dunia maya tanpa disertai rasa was-was dan penuh perhitungan. Hal yang sebelum ini kulakukan ketika penyedia layanan internet yang ada di Indonesia semuanya mengandalkan jaringan telepon, sehingga biaya pemakaian internet dihitung berdasarkan panjangnya waktu penggunaan ditambah pulsa telepon.
Bermain-main di dunia maya bagiku sangat menarik. Banyak hal baru yang dapat dipelajari di dunia ini dan proses pencarian topik yang ingin diketahui jauh lebih cepat dan hemat energi dibanding di dunia nyata. Khususnya di Tangerang, kota yang tingkat polusinya sangat tinggi karena kemacetan yang berlangsung hampir sepanjang hari. Belum lagi, jauhnya lokasi pusat-pusat informasi dari Tangerang.
Bukan hanya informasi, pertunjukan senipun bisa kunikmati dengan fasilitas internet. Banyak karya-karya seni yang bisa kusaksikan di youtube. Aku bisa menyaksikan pertunjukan balet "Swan Lake" yang terkenal itu untuk pertama kalinya di youtube. Sebelum ini, aku hanya melihat foto pertunjukan dan berita tentang penyelenggaraan pentas Swan Lake melalui berita di koran serta mendengar musik pengiringnya di kaset. Aku bisa menyaksikan festival paduan suara tingkat dunia da menyaksikan paduan suara sekaliber Phillipine Madrigal Singers juga di youtube.
Aku bukan hanya memanfaatkan internet sebagai pemuas diriku, tapi juga sebagai tempat mengaktualisasikan diriku. Ada yang bilang, umumnya pemilik blog adalah seorang narcisius. Terserahlah apa kata dunia, bagiku blogku adalah tempatku untuk menyatakan diriku. Kalau ternyata ada orang lain yang melihat blogku, biarlah dia melihat diriku seperti apa adanya. Aku tidak bermaksud memamerkan diri.
Aku memberi nama blogku WARDOGI sebagai akronim WARUNG DOKTER GIGI, karena semula aku bermaksud menuliskan hal-hal seputar kedokteran gigi dengan bahasa yang sederhana. Banyak tulisan-tulisan pertamaku yang diambil dari pengalaman sehari-hariku bersama pasien gigiku.
Tetapi di kemudian hari, ada hasrat-hasrat di dalam diriku yang ingin aku curahkan, karena itu aku mengganti judul blogku menjadi "kupikir...", tanpa mengubah alamat blogku : wardogi.blogspot.com. Setelah mengganti judul blogku, aku merasa lebih bebas menuliskan apa saja yang aku pikirkan, tanpa dibatasi oleh profesiku. Itulah sebabnya mengapa sekarang Delta Sungai Mekong, nasi goreng dan green tips ada di dalam wardogi.
Beberapa hari lagi blogku berusia 6 bulan. Kuharap aku masih tetap memiliki semangat untuk menyalurkan hasrat-hasratku. Kuharap blogku bukan hanya menjadi tempatku menyalurkan hasrat, tapi juga menjadi salah satu sumber informasi orang lain. Mimpi yang indah, mudah-mudahan tidak hanya mimpi saja.
Dibanding blog lain, tentu hal ini bukan prestasi. Tapi bagiku, ini membangkitkan semangat. Karena berarti ada yang berminat membaca tulisanku, terutama 1 bulan terakhir. Sebelum berlibur ke Vietnam, sitemeter di blogku mencatat 800-an pengunjung. Tau-tau, beberapa hari setelah aku menuliskan laporan perjalan ke Vietnam, jumlahnya meningkat drastis, dalam 1 minggu bisa bertambah sekitar 200-an pengunjung. Rupanya tulisanku tentang Vietnam banyak dilihat orang, setidaknya foto-fotonya, karena aku tahu pengunjung dari Brazil, Canada, Uzbekistan, Swedia, dan tempat-tempat lain di luar Indonesia pasti tidak memahami tulisanku.
Pengalamanku bermain di dunia maya sangat didukung oleh penyedia layanan internet spektrum luas yang dijual murah. Hal ini membuatku bebas menjelajahi dunia maya tanpa disertai rasa was-was dan penuh perhitungan. Hal yang sebelum ini kulakukan ketika penyedia layanan internet yang ada di Indonesia semuanya mengandalkan jaringan telepon, sehingga biaya pemakaian internet dihitung berdasarkan panjangnya waktu penggunaan ditambah pulsa telepon.
Bermain-main di dunia maya bagiku sangat menarik. Banyak hal baru yang dapat dipelajari di dunia ini dan proses pencarian topik yang ingin diketahui jauh lebih cepat dan hemat energi dibanding di dunia nyata. Khususnya di Tangerang, kota yang tingkat polusinya sangat tinggi karena kemacetan yang berlangsung hampir sepanjang hari. Belum lagi, jauhnya lokasi pusat-pusat informasi dari Tangerang.
Bukan hanya informasi, pertunjukan senipun bisa kunikmati dengan fasilitas internet. Banyak karya-karya seni yang bisa kusaksikan di youtube. Aku bisa menyaksikan pertunjukan balet "Swan Lake" yang terkenal itu untuk pertama kalinya di youtube. Sebelum ini, aku hanya melihat foto pertunjukan dan berita tentang penyelenggaraan pentas Swan Lake melalui berita di koran serta mendengar musik pengiringnya di kaset. Aku bisa menyaksikan festival paduan suara tingkat dunia da menyaksikan paduan suara sekaliber Phillipine Madrigal Singers juga di youtube.
Aku bukan hanya memanfaatkan internet sebagai pemuas diriku, tapi juga sebagai tempat mengaktualisasikan diriku. Ada yang bilang, umumnya pemilik blog adalah seorang narcisius. Terserahlah apa kata dunia, bagiku blogku adalah tempatku untuk menyatakan diriku. Kalau ternyata ada orang lain yang melihat blogku, biarlah dia melihat diriku seperti apa adanya. Aku tidak bermaksud memamerkan diri.
Aku memberi nama blogku WARDOGI sebagai akronim WARUNG DOKTER GIGI, karena semula aku bermaksud menuliskan hal-hal seputar kedokteran gigi dengan bahasa yang sederhana. Banyak tulisan-tulisan pertamaku yang diambil dari pengalaman sehari-hariku bersama pasien gigiku.
Tetapi di kemudian hari, ada hasrat-hasrat di dalam diriku yang ingin aku curahkan, karena itu aku mengganti judul blogku menjadi "kupikir...", tanpa mengubah alamat blogku : wardogi.blogspot.com. Setelah mengganti judul blogku, aku merasa lebih bebas menuliskan apa saja yang aku pikirkan, tanpa dibatasi oleh profesiku. Itulah sebabnya mengapa sekarang Delta Sungai Mekong, nasi goreng dan green tips ada di dalam wardogi.
Beberapa hari lagi blogku berusia 6 bulan. Kuharap aku masih tetap memiliki semangat untuk menyalurkan hasrat-hasratku. Kuharap blogku bukan hanya menjadi tempatku menyalurkan hasrat, tapi juga menjadi salah satu sumber informasi orang lain. Mimpi yang indah, mudah-mudahan tidak hanya mimpi saja.
Selasa, 27 Mei 2008
Susahnya kalau dokter gigi sakit gigi
Beberapa hari terakhir, gigi belakang kiri bawahku berulah lagi. Memang gigi yang satu ini paling susah diurus. Sejak aku masih anak-anak dia sudah berlubang dan ditambal Om John dengan amalgam. Tambalan yang sangat kuat, bertahan tanpa masalah hingga aku berusia 20-an. Saat itu Om John sepertinya baru mempunyai seperangkat alat dan bahan komposit, jadi seluruh tambalan amalgam di mulutku (meskipun tidak bermasalah) diganti dengan komposit. Kelihatan lebih bagus memang.
Masalah pertama muncul kira-kira 10 tahun yang lalu. Gigi ini terasa sakit berdenyut. Kali ini aku berkonsultasi dengan Eng Lian, yang waktu itu sedang studi spesialisasi konservasi gigi. Setelah dibongkar, daerah tanduk pulpa distal terasa sangat nyeri, sedangkan bagian mesial tidak masalah. Partial nekrosis. Menurut Eng lian, memang gejalanya seperti itu. Rasa sakitnya melebihi pulpitis. Waktu itu gigiku di-pulp-capping. Hal ini beratahan hingga kira-kira 5 tahun.
Muncullah masalah kedua. Gigi ini terasa sakit sekali, betul-betul sakit. Sakit ini akan mereda bila aku minum atau berkumur air, juga bila angin dihembuskan ke gigi ini. Kalau hal ini terjadi pada pasienku, aku pasti akan membuka tambalan gigi dan atap pulpa gigi. Hal ini pasti efektif untuk mengatasi tekanan gas yang ada di dalam pulpa yang menimbulkan rasa sakit ini. Tapi aku tidak berani melakukannya pada diriku. Ada rasa ragu, apa betul tindakan ini efektif.... bagaimana jika hasilnya malah makin sakit.
Sore itu, aku ke Bobby. Sejak di perjalanan sampai menunggu di ruang tunggu pasien (sungguh pengalaman menjemukan...), aku mengemut air sejuk terus. Bila suhu air sudah sama dengan suhu rongga mulut, air aku telan. Sampai kembung. Benar saja, yang dilakukan Bobby terhadap gigiku ini sama seperti yang biasa aku lakukan pada pasienku. Rasa sakit langsung hilang. Perawatan selanjutnya, aku lakukan sendiri. Perawatan seadanya, karena tidak mungkin aku melakukan preparasi biomekanis di gigi sendiri, apalagi gigi kiri. Hanya dengan memasukkan pasta kalsium hidroksida dan menutupnya dengan tambalan sementara. Bila tambalan sementara berkurang, ya tambal ulang. Seperti itulah, berulang-ulang dan gigiku bertahan tanpa masalah sampai beberapa bulan yang lalu.
Inilah masalah yang ketiga dan hingga kini belum terselesaikan. Beberapa bulan yang lalu, dinding bukal gigiku retak. Jadi sakit kalau dipakai mengunyah. Kali ini gigiku ditangani Debby. Bagian gigi yang retak dipotong, ternyata sampai di bawah tepi gusi. Ruang pulpa sudah tertutup, karena penggunaan kalsium hidroksida selama 5 tahun terakhir. Debby, yang spesialis konservasi gigi, menganjurkan agar gigiku dicabut saja, karena tidak memungkinkan lagi untuk direstorasi. Ketika aku minta tolong ke drg Alex untuk mencabut gigiku, dia malah balik meyakinkanku bahwa gigiku bisa direstorasi. Weleh.... sepertinya ada rasa sungkan karena pasiennya sesama dokter gigi.
Sampai sebulan yang lalu, sisa gigi yang ditolak oleh 2 spesialis itu tidak menimbulkan masalah, msekipun dalam keadaan terbuka. Baru beberapa hari belakangan, gigiku mulai mengganggu lagi. Dugaanku periodontitis, karena beberapa bulan oklusi tidak normal. Ada rasa tidak nyaman di sekitar gigi ini, tapi enak kalau dihisap-hisap. Kalau malam, rasa tidak nyaman bertambah. Sudah waktunya dicabut, tapi aku tidak bisa mencabutnya sendiri, selain rasa tidak tega waktu menyuntik, juga kesulitan mengatur posisi mancabut karena gigi ada di sebelah kiri.
Susahnya kalau dokter gigi sakit gigi.
Masalah pertama muncul kira-kira 10 tahun yang lalu. Gigi ini terasa sakit berdenyut. Kali ini aku berkonsultasi dengan Eng Lian, yang waktu itu sedang studi spesialisasi konservasi gigi. Setelah dibongkar, daerah tanduk pulpa distal terasa sangat nyeri, sedangkan bagian mesial tidak masalah. Partial nekrosis. Menurut Eng lian, memang gejalanya seperti itu. Rasa sakitnya melebihi pulpitis. Waktu itu gigiku di-pulp-capping. Hal ini beratahan hingga kira-kira 5 tahun.
Muncullah masalah kedua. Gigi ini terasa sakit sekali, betul-betul sakit. Sakit ini akan mereda bila aku minum atau berkumur air, juga bila angin dihembuskan ke gigi ini. Kalau hal ini terjadi pada pasienku, aku pasti akan membuka tambalan gigi dan atap pulpa gigi. Hal ini pasti efektif untuk mengatasi tekanan gas yang ada di dalam pulpa yang menimbulkan rasa sakit ini. Tapi aku tidak berani melakukannya pada diriku. Ada rasa ragu, apa betul tindakan ini efektif.... bagaimana jika hasilnya malah makin sakit.
Sore itu, aku ke Bobby. Sejak di perjalanan sampai menunggu di ruang tunggu pasien (sungguh pengalaman menjemukan...), aku mengemut air sejuk terus. Bila suhu air sudah sama dengan suhu rongga mulut, air aku telan. Sampai kembung. Benar saja, yang dilakukan Bobby terhadap gigiku ini sama seperti yang biasa aku lakukan pada pasienku. Rasa sakit langsung hilang. Perawatan selanjutnya, aku lakukan sendiri. Perawatan seadanya, karena tidak mungkin aku melakukan preparasi biomekanis di gigi sendiri, apalagi gigi kiri. Hanya dengan memasukkan pasta kalsium hidroksida dan menutupnya dengan tambalan sementara. Bila tambalan sementara berkurang, ya tambal ulang. Seperti itulah, berulang-ulang dan gigiku bertahan tanpa masalah sampai beberapa bulan yang lalu.
Inilah masalah yang ketiga dan hingga kini belum terselesaikan. Beberapa bulan yang lalu, dinding bukal gigiku retak. Jadi sakit kalau dipakai mengunyah. Kali ini gigiku ditangani Debby. Bagian gigi yang retak dipotong, ternyata sampai di bawah tepi gusi. Ruang pulpa sudah tertutup, karena penggunaan kalsium hidroksida selama 5 tahun terakhir. Debby, yang spesialis konservasi gigi, menganjurkan agar gigiku dicabut saja, karena tidak memungkinkan lagi untuk direstorasi. Ketika aku minta tolong ke drg Alex untuk mencabut gigiku, dia malah balik meyakinkanku bahwa gigiku bisa direstorasi. Weleh.... sepertinya ada rasa sungkan karena pasiennya sesama dokter gigi.
Sampai sebulan yang lalu, sisa gigi yang ditolak oleh 2 spesialis itu tidak menimbulkan masalah, msekipun dalam keadaan terbuka. Baru beberapa hari belakangan, gigiku mulai mengganggu lagi. Dugaanku periodontitis, karena beberapa bulan oklusi tidak normal. Ada rasa tidak nyaman di sekitar gigi ini, tapi enak kalau dihisap-hisap. Kalau malam, rasa tidak nyaman bertambah. Sudah waktunya dicabut, tapi aku tidak bisa mencabutnya sendiri, selain rasa tidak tega waktu menyuntik, juga kesulitan mengatur posisi mancabut karena gigi ada di sebelah kiri.
Susahnya kalau dokter gigi sakit gigi.