Menulis itu asik buatku. Aku sadar, aku ini mudah lupa dan melupakan. Apa yang kupikirkan, kurenungkan, kurasakan, kugumulkan minggu lalu, belum tentu kuingat hari ini. Aku menolong diriku sendiri untuk memperpanjang daya ingatku dengan menuliskan pikiran, renungan, perasaan, pergumulanku. Saat aku membaca ulang tulisanku, daya ingatku menjadi lebih panjang lagi. Karena itulah blogku ini menjadi penting bagiku dengan 'keabadiannya' di dunia fana ini. Bebas rayap, bebas tinta luntur, bebas berkerut karena kena banjir, bebas robek, bebas kebakaran.
Ada kepuasan yang muncul setiap kali selesai memasukkan tulisan di blog ini. Ada pikiran dan rasa yang telah tercurahkan dalam kata-kata dan terabadikan dalam blog ini. Sewaktu-waktu akan menolongku mengingat kembali pikiran dan perasaan yang pernah muncul.
Berpikir, merenung, menulis.... lalu tersimpan dalam catatan yang dapat dibaca kapan saja memang melegakan. Kalau kemudian tulisanku dibaca orang lain.... patut disyukuri. Bila ternyata menjadi informasi yang berguna atau malah menginspirasi orang lain...wow! Itu bonus buatku. Artinya aku menjadi bermakna bagi orang lain.
Dulu ketika pengetahuanku tentang internet baru sebatas email sebagai alat bertukar informasi, aku mengirimkan tulisanku ke redaksi sebuah harian ibukota. Saat-saat melihat tulisanku dimuat, menerima respons melalui email yang diteruskan padaku, menerima honor yang besarnya sama dengan pendapatanku sebulan sebagai praktisi kedokteran gigi, adalah saat-saat yang tidak terlupakan. Aku menjadi bermakna bagi orang lain dan bagi diriku sendiri. Namun tidak mudah mengulagi pengalaman seperti ini. Tidak mudah menembus seleksi redaksi, apalagi koran dengan oplah besar. Karena itu melihat tulisanku dimuat di media tidak menjadi obsesiku.
Ada lagi pengalaman unik menulisku. Tulisanku pernah dimuat di sebuah tabloid yang kukira cukup besar oplahnya karena berada di bawah manajeman sebuah televisi swasa nasional. Kali ini inisiatif menulis bukan berasal dariku. Seorang wartawan tabloid ini membuat janji, melalui manajer pemasaran rumah sakit tempatku bekerja,untuk melakukan wawancara. Hingga saat yang dijanjikan, wartawan tidak datang. 2 minggu kemudian, ada memo dari manajer pemasaran yang berisi daftar pertanyaan yang diajukan oleh wartawan. Karena tidak jelas kapan wartawan akan datang, aku berinisiatif untuk menuliskan jawabanku. Ternyata memang akhirnya aku tidak pernah bertemu dengan wartawan itu. Rupanya tanpa bertemu, wawancara dianggap selesai oleh sang wartawan. Tidak lama, aku menerima email dari sang wartawan yang meminta fotoku. Kukirim fotoku, juga melalui email. Setelah itu tidak ada kabar berita, tidak ada ucapan terimakasih dari wartawan, tahu-tahu seorang temanku memberitahuku tentang tulisanku yang dimuat di tabloid dalam kolom konsultasi yang memajang fotoku. Ck...ck...ck... rupanya itulah gaya jurnalisme jaman internet! Tanpa perlu tatap muka, basa basi, apalagi honor!
Dua pengalaman di atas membuatku yakin, menulis di blog itu jauh lebih berarti bagiku. Aku bisa menulis apa saja yang kuinginkan, tidak perlu menembus sensor orang lain. Aku bisa menulis tanpa perlu merasa dilecehkan. Aku bisa menulis dan menghargai sendiri tulisanku. Aku memang tidak memerlukan penghargaan dari orang lain atas tulisannku. Karena blogku adalah tempatku beraktualisasi. Di sinilah aku menyatakan diriku.
Selasa, 20 Oktober 2009
Minggu, 27 September 2009
Gaptek
Bicara soal gagap teknologi (gaptek), kebanyakan orang mengkaitkannya dengan ketertinggalan seseorang dalam teknologi komputer. Hari ini dan beberapa hari terakhir aku berjumpa dengan beberapa kekonyolan gara-gara gaptek.
Ada sebuah klinik kecil dengan beberapa ruang pelayanan. Untuk mempermudah pencatatan dan pelaporan tindakan medik, disediakanlah 2 perangkat komputer. Yang pertama diletakkan di ruang pendaftaran pasien, yang kedua diletakkan di ruang apotik. Tidak lama setelah kehadiran komputer ini, muncul masalah. Ada ketidakcocokan antara jumlah pasien yang datang dengan jumlah pelayanan yang diberikan dan dengan jumlah obat yang dikeluarkan. Semua diakibatkan oleh kebingungan operator komputer yang baru pertama kali bersentuhan dengan komputer. Yang menggelikan adalah solusinya. Demi menolong operator ini, ada pekerjaan ekstra yang lebih berbelit serta memboroskan kertas dan tinta yang harus dilakukan untuk menginput data ke dalam komputer.
Kupikir... teknologi komputer seharusnya menolong manusia. Namun gagap teknologi memutarbalikkannya, manusia diperbudak oleh teknologi komputer.
Ada sebuah tempat kebaktian, tempat orang bersekutu, dibuat besar dan megah, tanpa mempertimbangkan masalah akustik dan semangat kebersamaan. Teknologi sound system yang canggih dibuat agar suara pemimpin kebaktian dapat didengar oleh jemaat. Saat sound system rusak, suara pemimpin kebaktian yang berteriakpun tidak bisa didengar, bahkan oleh pengunjung yang duduk di tengah ruangan.
Kupikir.... orang menjadi gagap teknologi karena teknologi dipakai untuk menggantikan, bukan untuk menolong dan menghidupkan tradisi. Akibatnya saat teknologi tidak berfungsi, terasa sekali tradisi kebersamaan yang seharusnya ada dalam kebaktian ternyata memang sudah tidak ada di tempat itu.
Masih di tempat yang sama. Tempat yang besar dan megah tentunya akan semakin canggih jika difasilitasi oleh perangkat LCD. Semua informasi ditayangkan melalui LCD, termasuk teks lagu dan petunjuk kapan harus berdoa, membaca Alkitab, berdiri atau duduk, bahkan lafal pengakuan iman yang sudah melekat di otak. Pengkhotbah yang dianggap bagus adalah yang mampu memvisualisasikan bahan khotbanya melalui media power point. Saat operator komputer sedikit terlambat membalik halaman teks lagu, maka tak ada yang dapat bernyanyi. Saat terjadi gangguan pada LCD atau komputer, maka jemaatpun bingung harus berdiri atau duduk dan lupa bahwa ini adalah respon yang sangat alamiah dan seharusnya tidak perlu diperintahkan oleh LCD. Saat komputer terkena virus, barulah terasa bobot sesungguhnya sang pengkhotbah.
Kupikir.... teknologi komputer membuat orang yang gagap teknologi menjadi robot tak bernyawa, tidak wajar dan kehilangan kreativitas.
Di sebuah klinik gigi tersedia dental unit dengan teknologi modern. Semua terkomputerisasi. Untuk menaik-turunkan bangku, sandaran bangku cukup dengan menekan satu tombol. Dari 4 perangkat mesin pemutar bor yang berjajar di meja, hanya satu yang akan berfungsi yaitu yang diangkat dari soketnya. Selama mesin pemutar masih berada di dalam soketnya, meski dihidupkan, mesin tidak akan memutar bor. Sangat efektif dalam segi keamanan. Dengan sensor optikal, saluran air hanya akan mengeluarkan air kalau ada gelas kosong di bawahnya. Sangat efisien dalam penggunaan air. Masalah muncul saat terjadi kebocoran angin dari kompresor ke dental unit. Fungsi komputer sama sekali berhenti bekerja. Bahkan lampu tidak dapat dinyalakan. Tidak ada satu pasienpun yang dapat dilayani gara-gara tikus yang iseng menggigit selang angin.
Kupikir.... teknologi seharusnya tidak membuat manusia kalah terhadap makhluk lain. Namun tikus ternyata mampu membuat orang menjadi gaptek.
Saat pertama kali mengenal surat elektronik 12 tahun yang lalu, aku sudah cukup terlambat. Namun aku mensyukuri karena teknologi ini betul-betul mendekatkanku pada kakakku yang tinggal jauh di belahan dunia lain. Komunikasi menjadi lebih mudah dan irit waktu, meski saat itu koneksi internet masih menggunakan sistem dial-up. Banyak kemudahan lain kutemukan seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi hingga saat ini. Hingga terakhir, muncul teknologi blackberry. Semakin banyak orang yang menjadi tertolong untuk mengakses internet dengan alat ini, termasuk ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya dianggap dan mengaku gaptek. Mailing list semakin ramai dengan kehadiran milister pengguna blackberry. Muncul rekor posting beberapa bulan terakhir. Puluhan, bahkan ratusan posting dalam sehari. Sayangnya sebagian besar posting ternyata tidak berbobot, kadang-kadang hanya berisi tulisan "wkwkwk..." (maksudnya menggambarkan bunyi tertawa, meskipun kalau dibaca lebih mirip suara bebek) untuk menanggapi posting sebelumnya yang berisi lelucon 1 baris. Banyak milister lain yang masih menggunakan sistem dial-up mengalami kemacetan dalam mengirim dan menerima email karena padatnya lalulintas email. Yang lain kehilangan email penting karena terselip di antara email-email kripik itu (rame saat dikunyah namun tak bergizi).
Kupikir... gagap teknologi menjadi menular bahkan kepada orang yang sebelumnya tergolong atau menganggap dirinya melek teknologi. Rancu, sesungguhnya yang gaptek itu milister pengguna blackberry atau milister dengan sistem dial-up?
Teknologi dibuat untuk menolong agar kerja manusia menjadi lebih mudah, lebih teliti, lebih menjangkau bagian yang tidak terjangkau secara manusiawi, lebih mencakup dimensi yang lebih luas. Gagap teknologi bukan hanya menjangkiti orang yang tidak mengikuti perkembangan teknologi, tapi juga orang yang mengikuti namun meninggalkan segi kemanusiaannya.
Ada sebuah klinik kecil dengan beberapa ruang pelayanan. Untuk mempermudah pencatatan dan pelaporan tindakan medik, disediakanlah 2 perangkat komputer. Yang pertama diletakkan di ruang pendaftaran pasien, yang kedua diletakkan di ruang apotik. Tidak lama setelah kehadiran komputer ini, muncul masalah. Ada ketidakcocokan antara jumlah pasien yang datang dengan jumlah pelayanan yang diberikan dan dengan jumlah obat yang dikeluarkan. Semua diakibatkan oleh kebingungan operator komputer yang baru pertama kali bersentuhan dengan komputer. Yang menggelikan adalah solusinya. Demi menolong operator ini, ada pekerjaan ekstra yang lebih berbelit serta memboroskan kertas dan tinta yang harus dilakukan untuk menginput data ke dalam komputer.
Kupikir... teknologi komputer seharusnya menolong manusia. Namun gagap teknologi memutarbalikkannya, manusia diperbudak oleh teknologi komputer.
Ada sebuah tempat kebaktian, tempat orang bersekutu, dibuat besar dan megah, tanpa mempertimbangkan masalah akustik dan semangat kebersamaan. Teknologi sound system yang canggih dibuat agar suara pemimpin kebaktian dapat didengar oleh jemaat. Saat sound system rusak, suara pemimpin kebaktian yang berteriakpun tidak bisa didengar, bahkan oleh pengunjung yang duduk di tengah ruangan.
Kupikir.... orang menjadi gagap teknologi karena teknologi dipakai untuk menggantikan, bukan untuk menolong dan menghidupkan tradisi. Akibatnya saat teknologi tidak berfungsi, terasa sekali tradisi kebersamaan yang seharusnya ada dalam kebaktian ternyata memang sudah tidak ada di tempat itu.
Masih di tempat yang sama. Tempat yang besar dan megah tentunya akan semakin canggih jika difasilitasi oleh perangkat LCD. Semua informasi ditayangkan melalui LCD, termasuk teks lagu dan petunjuk kapan harus berdoa, membaca Alkitab, berdiri atau duduk, bahkan lafal pengakuan iman yang sudah melekat di otak. Pengkhotbah yang dianggap bagus adalah yang mampu memvisualisasikan bahan khotbanya melalui media power point. Saat operator komputer sedikit terlambat membalik halaman teks lagu, maka tak ada yang dapat bernyanyi. Saat terjadi gangguan pada LCD atau komputer, maka jemaatpun bingung harus berdiri atau duduk dan lupa bahwa ini adalah respon yang sangat alamiah dan seharusnya tidak perlu diperintahkan oleh LCD. Saat komputer terkena virus, barulah terasa bobot sesungguhnya sang pengkhotbah.
Kupikir.... teknologi komputer membuat orang yang gagap teknologi menjadi robot tak bernyawa, tidak wajar dan kehilangan kreativitas.
Di sebuah klinik gigi tersedia dental unit dengan teknologi modern. Semua terkomputerisasi. Untuk menaik-turunkan bangku, sandaran bangku cukup dengan menekan satu tombol. Dari 4 perangkat mesin pemutar bor yang berjajar di meja, hanya satu yang akan berfungsi yaitu yang diangkat dari soketnya. Selama mesin pemutar masih berada di dalam soketnya, meski dihidupkan, mesin tidak akan memutar bor. Sangat efektif dalam segi keamanan. Dengan sensor optikal, saluran air hanya akan mengeluarkan air kalau ada gelas kosong di bawahnya. Sangat efisien dalam penggunaan air. Masalah muncul saat terjadi kebocoran angin dari kompresor ke dental unit. Fungsi komputer sama sekali berhenti bekerja. Bahkan lampu tidak dapat dinyalakan. Tidak ada satu pasienpun yang dapat dilayani gara-gara tikus yang iseng menggigit selang angin.
Kupikir.... teknologi seharusnya tidak membuat manusia kalah terhadap makhluk lain. Namun tikus ternyata mampu membuat orang menjadi gaptek.
Saat pertama kali mengenal surat elektronik 12 tahun yang lalu, aku sudah cukup terlambat. Namun aku mensyukuri karena teknologi ini betul-betul mendekatkanku pada kakakku yang tinggal jauh di belahan dunia lain. Komunikasi menjadi lebih mudah dan irit waktu, meski saat itu koneksi internet masih menggunakan sistem dial-up. Banyak kemudahan lain kutemukan seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi hingga saat ini. Hingga terakhir, muncul teknologi blackberry. Semakin banyak orang yang menjadi tertolong untuk mengakses internet dengan alat ini, termasuk ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya dianggap dan mengaku gaptek. Mailing list semakin ramai dengan kehadiran milister pengguna blackberry. Muncul rekor posting beberapa bulan terakhir. Puluhan, bahkan ratusan posting dalam sehari. Sayangnya sebagian besar posting ternyata tidak berbobot, kadang-kadang hanya berisi tulisan "wkwkwk..." (maksudnya menggambarkan bunyi tertawa, meskipun kalau dibaca lebih mirip suara bebek) untuk menanggapi posting sebelumnya yang berisi lelucon 1 baris. Banyak milister lain yang masih menggunakan sistem dial-up mengalami kemacetan dalam mengirim dan menerima email karena padatnya lalulintas email. Yang lain kehilangan email penting karena terselip di antara email-email kripik itu (rame saat dikunyah namun tak bergizi).
Kupikir... gagap teknologi menjadi menular bahkan kepada orang yang sebelumnya tergolong atau menganggap dirinya melek teknologi. Rancu, sesungguhnya yang gaptek itu milister pengguna blackberry atau milister dengan sistem dial-up?
Teknologi dibuat untuk menolong agar kerja manusia menjadi lebih mudah, lebih teliti, lebih menjangkau bagian yang tidak terjangkau secara manusiawi, lebih mencakup dimensi yang lebih luas. Gagap teknologi bukan hanya menjangkiti orang yang tidak mengikuti perkembangan teknologi, tapi juga orang yang mengikuti namun meninggalkan segi kemanusiaannya.
Senin, 31 Agustus 2009
Nasi uduk hijau

Sudah biasa dengan nasi uduk yang putih, kemarin kebetulan ada waktu, aku mencoba mencampur santan dengan pohcai yang diblender. Larutan inilah, dicampur dengan bumbu nasi uduk lainnya, yang kupakai untuk menanak nasi uduk. Untuk memberi rasa yang khas nasi uduk hijau, aku menggunakan banyak daun jeruk. Sewaktu masih diaron, warna hijaunya bagus seperti sayur segar. Tapi setelah dikukus, warnanya lama kelamaan pudar, dan menjadi agak kekuningan, seperti warna sayur yang terlalu lama dimasak. Tapi lumayan, masih cukup menarik untuk disajikan. Disajikan bersama tumis tahu, sambel goreng kering kentang, sambal goreng telur puyuh dan kentang, krupuk udang dan emping. Sesuatu yang berbeda.
Kupikir...
Lain kali, untuk menbuat warna hijau, aku akan menggunakan daun suji saja.
Sabtu, 01 Agustus 2009
Waria dan perempuan di Thailand
Hampir semua orang pernah mendengar tentang kontes waria yang diselenggarakan di Thailand. Kalau melihat foto-foto mereka di missladyboy.com , tentu banyak yang mengakui kecantikan dan keanggunan mereka.
Tampaknya, ladyboy, istilah yang menunjuk pada waria, di Thailand adalah hal yang biasa. Artinya sebagai gender ketiga, mereka hidup berdampingan dengan gender yang lainnya. Mereka bekerja di banyak sektor dan terlihat wajar-wajar saja. Mereka tidak tampak salah tingkah dan tidak dituding-tuding atau diasingkan oleh sekitarnya. Mereka hadir sebagai orang biasa, meskipun berbeda dengan yang lain. Keberbedaan yang diterima sebagai hal yang biasa.
Dalam kunjuganku selama 2 minggu, cukup sering aku menjumpai mereka. Mereka hadir sebagai resepsionis hotel, petugas kebersihan, juga kenek perahu. Mereka memang sesama manusia dan seharusnya diperlakukan seperti manusia umumnya. Sesuatu yang sulit bagi masyarakat yang bahkan untuk memperlakukan perempuan sebagai manusia biasa saja, sulit.
Soal sikap terhadap perempuan. Alangkah nyamannya berjalan-jalan di kota Ao Nang atau Koh Tao atau kota-kota pantai lainnya di Thailand setelah bermain di laut seharian tanpa disibukkan dengan urusan ganti pakaian. Tidak ada sorotan mata iseng, tidak ada pandangan sinis, tidak ada siulan iseng. Saat menikmati jalan-jalan seperti ini, aku membandingkannya pada ketidaknyamanan duduk di angkot di kota Tangerang. Inilah salah satu sebab aku tidak menyukai kostum rok. Di halte-halte liar tempat angkot ngetem, banyak laki-laki muda berjongkok yang sudah siap dengan mata yang mengarah setinggi tempat duduk angkot. Mata liar yang berasal dari pikiran yang tidak menghargai perempuan sebagai sesama manusia. Mata liar yang berharap menjumpai perempuan memakai rok mini. Mata yang bertengger di kepala yang akan berjuang keras menundukkan serendah mungkin bila menjumpai perempuan memakai rok sedikit lebih panjang dari lutut. Kepala yang pikirannya memandang perempuan hanya sebagai obyek.
Bagaimana terhadap waria.... ?
Tampaknya, ladyboy, istilah yang menunjuk pada waria, di Thailand adalah hal yang biasa. Artinya sebagai gender ketiga, mereka hidup berdampingan dengan gender yang lainnya. Mereka bekerja di banyak sektor dan terlihat wajar-wajar saja. Mereka tidak tampak salah tingkah dan tidak dituding-tuding atau diasingkan oleh sekitarnya. Mereka hadir sebagai orang biasa, meskipun berbeda dengan yang lain. Keberbedaan yang diterima sebagai hal yang biasa.
Dalam kunjuganku selama 2 minggu, cukup sering aku menjumpai mereka. Mereka hadir sebagai resepsionis hotel, petugas kebersihan, juga kenek perahu. Mereka memang sesama manusia dan seharusnya diperlakukan seperti manusia umumnya. Sesuatu yang sulit bagi masyarakat yang bahkan untuk memperlakukan perempuan sebagai manusia biasa saja, sulit.
Soal sikap terhadap perempuan. Alangkah nyamannya berjalan-jalan di kota Ao Nang atau Koh Tao atau kota-kota pantai lainnya di Thailand setelah bermain di laut seharian tanpa disibukkan dengan urusan ganti pakaian. Tidak ada sorotan mata iseng, tidak ada pandangan sinis, tidak ada siulan iseng. Saat menikmati jalan-jalan seperti ini, aku membandingkannya pada ketidaknyamanan duduk di angkot di kota Tangerang. Inilah salah satu sebab aku tidak menyukai kostum rok. Di halte-halte liar tempat angkot ngetem, banyak laki-laki muda berjongkok yang sudah siap dengan mata yang mengarah setinggi tempat duduk angkot. Mata liar yang berasal dari pikiran yang tidak menghargai perempuan sebagai sesama manusia. Mata liar yang berharap menjumpai perempuan memakai rok mini. Mata yang bertengger di kepala yang akan berjuang keras menundukkan serendah mungkin bila menjumpai perempuan memakai rok sedikit lebih panjang dari lutut. Kepala yang pikirannya memandang perempuan hanya sebagai obyek.
Bagaimana terhadap waria.... ?
Rabu, 15 Juli 2009
Jumat, 03 Juli 2009
BERDEKATAN DENGAN KEMATIAN
Air terjun Hin Lat sebetulnya biasa saja, tidak setinggi dan sebesar air terjun Cibeureum atau Grojogan Sewu, misalnya. Bedanya, tempat ini sepi dan bersih. Saat itu hanya ada 2 orang lain selain kami bertiga.
Saat kami menyusuri jalan turun untuk kembali ke bawah, tibalah kami pada tempat berpijak bersejarah itu. Sepersekian detik sebelum aku menapakkan kaki kananku di situ, terlintas di pikiranku .... sepertinya aku akan terpeleset jika aku menapak di situ. Dan terjadilah yang kupikirkan itu. Tidak ada waktu untuk membatalkan langkah kakiku.
Aku terpeleset dan dalam hitungan detik, aku terperosok ke dalam jurang! Aku merasakan tubuhkan meluncur, berguling, terbanting dan berputar tanpa mampu menahan..... hingga kepalaku sudah berada lebih rendah daripada kaki dan membentur batu. Saat itulah, seperti ada yang menahan, pergerakan tubuhku mengikuti gravitasi bumi tiba-tiba terhenti. Yang pasti bukan gesekan dinding jurang yang hanya pasir melulu.
Secara refleks, aku berusaha mengembalikan posisi kepalaku kembali di atas dengan menumpu tanganku pada dahan yang melintang di depan dadaku. Aku menarik nafas dalam-dalam kemudian mencari-cari tempat keras untuk menapak. Nyaris tidak ada, semuanya pasir! Ada sebongkah batu seukuran setengah telapak kaki yang menonjol di antara tumpukan pasir. Di sanalah sementara aku bertumpu.
Setelah agak stabil, aku melihat di sekitarku, ke atas, ke bawah ..... hanya pasir dan beberapa ranting pohon dan sedikit batu menonjol. Di bawahku ada aliran sungai dengan batu-batu besar, letaknya mungkin sekitar 5 atau 6 meter dari tempatku berada. Selintas terpikir olehku, inilah akhir hidupku. aku tidak akan lama berdiri stabil dan akan jatuh ke sungai dan kepalaku membentur batu-batu kali yang akan memecahkan kepalaku. Saat itu aku merasa dekat sekali dengan kematian.
Cukup selintas saja. Tidak ada waktu untuk bergidik. Setelah itu aku bertekad untuk menyelamatkan diriku. Ditambah suara guru hebatku di atas sana, semangatku untuk kembali ke atas bertumbuh.
Sempat terpikir olehku saat itu, mengapa guru hebatku hanya berteriak-teriak saja di atas memberi petunjuk, bukannya turun untuk membantuku naik. Rasa kesal karena tidak dibantu, ditambah semangatku untuk bergerak naik menjadi vitamin berenergi yang menambah tenagaku untuk bergerak ke atas. Dalam keadaan normal, bahkan untuk mendorong tubuhku dari air sedalam 1,5 meter untuk duduk ke pinggir kolam renang, aku sering tidak mampu! Dan kali ini aku harus memanjat setinggi 5 meter untuk mencapai jalan setapak!
Setelah tiba di atas, aku baru menyadari bahwa jurang itu betul-betul curam, hampir 90 derajat. Pantaslah guru hebatku tidak bisa membantuku.
Rupanya aku diselamatkan oleh lilitan beberapa ranting pohon pada kaki kananku. Tahanan ranting pada selangkanganlah yang menghentikan luncuranku. Aku baru menyadari kehadiran ranting-ranting itu ketika aku harus membebaskan diriku dari lilitannya pada saat berusaha memanjat ke atas.
Perlahan-lahan aku meniti ke atas dengan bertumpu pada akar pohon dan beberapa batu yang sedikit menonjol. Aku selamat dan hanya menyisakan sebuah luka terbuka, 2 buah bengkak di kaki, 1 benjolan di kepala, beberapa luka lebam dan baret-baret di kaki dan tangan. Sebuah pengalaman berdekatan dengan kematian yang sangat singkat. Tidak ada peluang untuk merasa ngeri, tidak ada peluang untuk menimbang-nimbang pilihan, bahkan untuk menangis!
Pengalaman itu mirip seperti grafik persamaan kuadrat yang berbentuk parabola yang menggambarkan garis hidupku. Ketika nilai x menghasilkan nilai minimum y, ada garis lurus horisontal dengan nilai y sedikit dibawah nilai y grafik parabola hidupku. Perbedaan nilai itu sangat kecil, seandainya pinsil yang digunakan untuk membuat grafik tidak tajam, tentu akan akan menghasilkan titik potong.
Gambar yang sempurna ..... sehingga menghasilkan grafik parabola yang masih akan berjalan terus membentuk parabola-parabola berikutnya.........
Kamis, 28 Mei 2009
Kupikir..... aku beruntung pada Peh Cun tahun ini
Hari ini, 28 Mei 2009 bertepatan dengan tanggal 5 bulan 5 menurut penanggalan Cina. Ada tradisi Peh Cun pada hari ini untuk merayakan Dewa Air. Persisnya bagaimana, aku tidak terlalu mengerti, karena keluargaku hanya mewarisi darah Cina, tetapi tidak tradisinya. Yang aku tahu, menjelang Peh Cun, banyak orang menjual daun bambu dan beras ketan yang terpilih. Kemudian, 3-5 hari menjelang Peh Cun banyak kue cang dijual di pasar.
Waktu kecil dulu, aku ingat kami pernah "kebagian jatah" bacang dari Om John yang mendapat kiriman banyak bacang dari pasien-pasiennya. Jatah kita begitu banyak, dalam segi jumlah maupun rasa. Ada yang dari ketan, ada juga yang dari beras. Ada yang manis, ada yang asin, ada yang pedas, ada juga yang mengandung cabe rawit gelondongan di dalamnya. Saat itu, untuk pertama kalinya aku mendengar istilah Peh Cun juga penjelasan tentang kapan perayaan itu terjadi dalam penanggalan Cina.
Setelah pengalaman masa kecil itu, istilah Peh Cun kudengar lagi ketika SMA dalam pelajaran Bahasa Inggris. Salah satu bahan bacaan yang dipakai adalah tentang perayaan pesta air yang diselenggarakan pada Peh Cun. Entah mengapa, dibandingkan perayaan-perayaan tradisional Cina lainnya, Peh Cun lebih berkesan bagiku. Jadi meskipun pengalaman dan informasi yang kudapatkan sangat sedikit, aku mengingatnya terus.
Lama sesudah itu... setelah aku berkeluarga, aku bertetangga dengan keluarga keturunan Cina yang berasal dari Belitung. Beberapa hari menjelang Peh Cun, mereka membuat kue cang dan bacang dalam jumlah banyak dan menjualnya kepada tetangga-tetangga. Selain itu, aku juga melihat ada yang istimewa di Sungai Cisadane, yang mengalir di belakang Robinson, Tangerang. Ada banyak perahu-perahu dengan hiasan di sepanjang sungai. Rupanya dari dulu, orang-orang Cina di Tangerang memiliki tradisi merayakan Peh Cun dengan lomba perahu, dan kemudian diambil alih oleh pemda dengan Festival Cisadane yang diadakan di sekitar hari raya Peh Cun.
7 tahun terakhir, setelah kami pindah rumah, tidak ada lagi pengalaman yang membuatku ingat akan Peh Cun.
Di luar kenangan-kenangan tentang Peh Cun, ada satu kejadian yang melekat terus di benakku, yaitu fenomena berdirinya telur. Aku pernah mendengar kesaksian orang yang berhasil membuat telur berdiri. Kejadian yang hanya terjadi satu kali setahun secara teratur menurut penanggalan Cina, namun aku tidak mengingatnya. Hingga 3 tahun yang lalu, dengan "googling" aku mengetahui bahwa fenomena ini terjadi pada saat Peh Cun. Sayang, saat itu Peh Cun sudah lewat. Jadi aku harus menunggu beberapa bulan lagi.
Tahun lalu, Peh Cun jatuh pada hari Minggu. Aku mengeluarkan telur sejak pagi dari lemari es dan menunggu-nunggu telur-telur itu berdiri. Ternyata penantianku sia-sia, tidak satupun yang berdiri. Malamnya, aku menyaksikan berita di TV tentang orang-orang di klentek Boen Tek Bio yang berkumpul untuk membuat telur-telur berdiri. Ternyata telur harus dibuat berdiri, tidak bisa berdiri sendiri. Satu tahun lagi aku harus menunggu!
Tadi pagi, Sian Ing mengantarkan kue cang dan bacang ke rumah....hmm..... sudah lama sekali aku tidak mengalami ini! Ini keberuntungan pertamaku pada Peh Cun tahun ini. Kemudian, sama seperti tahun lalu, aku mengeluarkan telur-telur dari lemari es.
Pukul 12, aku mencoba membuat telur-telur berdiri.....horeeee....berhasil! Keberuntunganku yang kedua! Aku berhasil membuat 5 telur berdiri, sayang yang 2 jatuh sebelum diabadikan gambarnya. Tidak mudah untuk membuat telur berdiri. Perlu kesabaran dan ketenangan. Dan aku merasa beruntung sekali dapat menjadi saksi fenomena unik ini.
Keberuntunganku yang ketiga, balerinaku pulang dengan membawa 5 buah bacang dari temannya.... Ini adalah pengalaman Peh Cun-ku yang paling berkesan selama ini. Kupikir....aku beruntung pada Peh Cun tahun ini.
Waktu kecil dulu, aku ingat kami pernah "kebagian jatah" bacang dari Om John yang mendapat kiriman banyak bacang dari pasien-pasiennya. Jatah kita begitu banyak, dalam segi jumlah maupun rasa. Ada yang dari ketan, ada juga yang dari beras. Ada yang manis, ada yang asin, ada yang pedas, ada juga yang mengandung cabe rawit gelondongan di dalamnya. Saat itu, untuk pertama kalinya aku mendengar istilah Peh Cun juga penjelasan tentang kapan perayaan itu terjadi dalam penanggalan Cina.
Setelah pengalaman masa kecil itu, istilah Peh Cun kudengar lagi ketika SMA dalam pelajaran Bahasa Inggris. Salah satu bahan bacaan yang dipakai adalah tentang perayaan pesta air yang diselenggarakan pada Peh Cun. Entah mengapa, dibandingkan perayaan-perayaan tradisional Cina lainnya, Peh Cun lebih berkesan bagiku. Jadi meskipun pengalaman dan informasi yang kudapatkan sangat sedikit, aku mengingatnya terus.
Lama sesudah itu... setelah aku berkeluarga, aku bertetangga dengan keluarga keturunan Cina yang berasal dari Belitung. Beberapa hari menjelang Peh Cun, mereka membuat kue cang dan bacang dalam jumlah banyak dan menjualnya kepada tetangga-tetangga. Selain itu, aku juga melihat ada yang istimewa di Sungai Cisadane, yang mengalir di belakang Robinson, Tangerang. Ada banyak perahu-perahu dengan hiasan di sepanjang sungai. Rupanya dari dulu, orang-orang Cina di Tangerang memiliki tradisi merayakan Peh Cun dengan lomba perahu, dan kemudian diambil alih oleh pemda dengan Festival Cisadane yang diadakan di sekitar hari raya Peh Cun.
7 tahun terakhir, setelah kami pindah rumah, tidak ada lagi pengalaman yang membuatku ingat akan Peh Cun.
Di luar kenangan-kenangan tentang Peh Cun, ada satu kejadian yang melekat terus di benakku, yaitu fenomena berdirinya telur. Aku pernah mendengar kesaksian orang yang berhasil membuat telur berdiri. Kejadian yang hanya terjadi satu kali setahun secara teratur menurut penanggalan Cina, namun aku tidak mengingatnya. Hingga 3 tahun yang lalu, dengan "googling" aku mengetahui bahwa fenomena ini terjadi pada saat Peh Cun. Sayang, saat itu Peh Cun sudah lewat. Jadi aku harus menunggu beberapa bulan lagi.
Tahun lalu, Peh Cun jatuh pada hari Minggu. Aku mengeluarkan telur sejak pagi dari lemari es dan menunggu-nunggu telur-telur itu berdiri. Ternyata penantianku sia-sia, tidak satupun yang berdiri. Malamnya, aku menyaksikan berita di TV tentang orang-orang di klentek Boen Tek Bio yang berkumpul untuk membuat telur-telur berdiri. Ternyata telur harus dibuat berdiri, tidak bisa berdiri sendiri. Satu tahun lagi aku harus menunggu!
Label:
Peh Cun,
Telur berdiri,
Tingkah laku,
Tradisi